Just another free Blogger theme

Website ini memuat Tulisan, Refleksi, Katekese, dan Renungan dari Katekis Ingatan Sihura. Website ini kemudian merupakan bagian dari memaksimalkan media yang ada menjadi sarana pewartaan. Semoga bermanfaat. Ya'ahowu!

31/07/2026

KETIKA SAUDARA PULANG KE JALAN LAIN

Oleh, Sdr. Ingatan Sihura

 

Ada berita yang selalu mengguncang hati umat: seorang saudara Fransiskan, yang juga seorang imam, memutuskan meninggalkan biaranya, melepaskan jubahnya, dan pada akhirnya memilih untuk menikah. Bagi sebagian orang, ini terasa seperti keruntuhan sebuah menara yang dibangun bertahun-tahun. Bagi yang lain, ini adalah pertanyaan yang menusuk: bagaimana mungkin janji yang begitu khidmat bisa diingkari?

Gambaran Ilustrasi. Sumber: ChatGPT.

Tulisan ini tidak hendak menghakimi, juga tidak hendak membenarkan begitu saja. Ia hendak mengajak kita duduk sejenak, memandang peristiwa ini dengan mata St. Fransiskus dari Assisi, seorang yang dikenal karena kelembutannya, tetapi juga karena kejujurannya menghadapi kelemahan manusia, termasuk kelemahan saudara-saudaranya sendiri.

 

Pilihan yang Dimeteraikan dengan Janji

Menjadi seorang biarawan Fransiskan sekaligus imam bukanlah nasib yang jatuh dari langit. Ia adalah pilihan yang lahir dari pergulatan batin panjang, dari doa, dari bimbingan rohani, dari tahun-tahun formasi yang menempa jiwa dan tubuh. Pilihan itu kemudian dinyatakan dalam janji: janji hidup selibat, janji kemiskinan dan ketaatan, serta janji untuk mengabdi Allah sebagai imam dalam Gereja Katolik.

Namun justru di sinilah letak kerapuhan yang harus jujur kita akui: sebuah janji, seagung apa pun, tetaplah janji manusia. Ia bukan jaminan otomatis, melainkan komitmen yang harus terus-menerus diperjuangkan hari demi hari. Yesus sendiri pernah berkata kepada murid-murid-Nya di Getsemani, ketika mereka tertidur. Alih-alih berjaga bersama-Nya, mereka justru tertidur pulas. Di sini tampak bahwa roh memang penurut, tetapi daging lemah (Mat. 26:41). Rasul Paulus mengalami pergulatan yang sama dalam dirinya sendiri: ia mengakui bahwa kehendak baik selalu ada padanya, tetapi kemampuan untuk melaksanakannya secara konsisten adalah pertempuran yang tak pernah usai (bdk. Rm. 7:15–19).

Ayat-ayat ini bukan alasan untuk membenarkan pengingkaran janji, tetapi pengingat rendah hati bahwa niat yang kuat pun bisa goyah oleh kelemahan tubuh dan hati. Janji bukan berarti tidak bisa diingkari secara faktual. Manusia bisa saja melanggarnya, namun janji menuntut kekuatan hati yang serius, sebuah kesetiaan yang harus terus diperbarui, bukan sekali diucapkan lalu selesai.

 

Tanggung Jawab dan Konsekuensinya

Ketika seorang saudara Fransiskan memutuskan keluar dari biara dan meninggalkan tugas imamatnya, itu menjadi tanggung jawabnya sendiri di hadapan Allah dan hati nuraninya. Namun keputusan itu bukan berarti ia bisa begitu saja "pergi tanpa jejak". Ada jalan yang harus ditempuh: pengurusan pembebasan dari tugas imamat (laikalisasi) dan proses resmi pengembaliannya menjadi awam. Gereja, melalui Kitab Hukum Kanonik, menegaskan bahwa hilangnya status klerikal tidak dengan sendirinya melepaskan seseorang dari kewajiban selibat, dispensasi atas kewajiban itu hanya dapat diberikan oleh Sri Paus (bdk. KHK kan. 291). Artinya, jalan pulang ke kehidupan awam, termasuk untuk menikah secara sah dalam Gereja, adalah jalan yang tertata, bukan jalan pintas yang bisa ditempuh sembarangan.

Ini penting untuk dipahami bukan sebagai birokrasi yang kaku, melainkan sebagai bentuk penghormatan Gereja terhadap kesungguhan sebuah janji, sekaligus penghormatan terhadap kesungguhan manusia yang ingin menata ulang hidupnya dengan jujur dan bertanggung jawab, bukan dengan sembunyi-sembunyi.

 

Kekecewaan Umat yang Manusiawi

Sebagai umat, wajar jika hati kita kecewa. Proses menjadi biarawan, apalagi hingga tahbisan imamat, bukanlah perjalanan singkat. Ia menempuh bertahun-tahun formasi, biaya yang tidak sedikit, serta dukungan doa dan harapan begitu banyak orang yang menaruh kepercayaan padanya. Ketika semua itu kemudian "berakhir" dengan keputusan meninggalkan panggilan, kekecewaan adalah reaksi yang wajar dan manusiawi. Tidak perlu kita menyangkalnya atau berpura-pura tidak merasa apa-apa.

Namun kekecewaan ini juga tidak perlu didramatisasi menjadi kebencian, apalagi menjadi bahan gunjingan yang mempermalukan. Sebab di sinilah kita diundang untuk belajar dari sikap Bapa Pendiri kita sendiri.

 

Sikap St. Fransiskus: Saudara Tetaplah Saudara

St. Fransiskus, ketika berhadapan dengan saudara-saudaranya yang lemah, jatuh, atau bahkan meninggalkan persaudaraan, tidak pernah menjadikan mereka musuh. Ia tidak mempermalukan mereka di hadapan umum. Sebaliknya, ia mendoakan mereka dan memberi nasihat agar tetap dapat hidup menurut semangat Injil. Bagi Fransiskus, seorang saudara yang lemah atau bahkan yang jatuh tetaplah saudara. Ikatan persaudaraan itu tidak putus hanya karena kegagalan atau kelemahan manusiawi.

Sikap ini tampak jelas dalam salah satu Nasihatnya (Admonitiones) yang paling menyentuh: "Berbahagialah orang, yang sabar menerima sesamanya dalam kelemahannya, sebagaimana ia pun ingin diterima oleh sesamanya dengan sabar, sekiranya ia sendiri berada dalam keadaan yang serupa" (Nasihat XVIII). Fransiskus paham betul bahwa setiap orang, termasuk dirinya sendiri, bisa jatuh dalam kelemahan. Karena itu ia mengajak saudara-saudaranya untuk saling menanggung, bukan saling menghakimi. Dalam nasihat lain ia bahkan berkata bahwa yang patut dibanggakan bukan pengetahuan atau kekuatan, melainkan justru kelemahan kita dan kesediaan memikul salib Tuhan setiap hari (bdk. Nasihat V).

Fransiskus tidak pernah menuntut kesempurnaan sebagai syarat kasih. Ia menuntut kejujuran hati dan kerendahan untuk terus kembali kepada Injil, betapapun jatuh berkali-kali.

 

Sikap Gereja: Pintu yang Tidak Pernah Ditutup

Sikap Gereja pun sejalan dengan semangat itu. Gereja tidak menutup pintu bagi saudara yang meninggalkan tugas imamatnya. Pintu penerimaan kembali, baik sebagai umat awam yang penuh, maupun sebagai anggota Gereja yang dikasihi, tetap terbuka. Namun Gereja juga jujur bahwa setiap pilihan hidup baru membawa konsekuensi kanoniknya sendiri. Ketika seseorang yang pernah ditahbiskan hendak menikah, ia perlu terlebih dahulu memperoleh dispensasi dari kewajiban selibatnya, sebab tahbisan meninggalkan meterai rohani yang tidak terhapuskan, meski status klerikalnya sudah dilepaskan. Proses ini, yang dikenal dengan istilah laikalisasi, memastikan bahwa langkah baru itu ditempuh secara sah, tertib, dan penuh tanggung jawab di hadapan Gereja, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai peralihan status hidup yang diakui. Gereja, dengan kata lain, tidak sedang menghukum dengan menutup pintu, tetapi sedang menjaga agar setiap langkah, sesulit apa pun, tetap ditempuh dalam terang dan kejujuran.

 

Sikap Yesus: Bapa yang Berlari Menyambut

Namun dari semua itu, gambaran yang paling menggetarkan hati tetaplah perumpamaan yang diberikan Yesus sendiri: kisah anak yang hilang (Luk. 15:11-32). Anak bungsu yang pergi jauh, menghabiskan segalanya, dan pulang dengan tangan kosong serta hati yang hancur, disambut bukan dengan interogasi atau penghakiman, melainkan dengan pelukan seorang bapa yang telah lama menanti dari kejauhan. Perumpamaan ini adalah gambaran hati Allah yang maharahim. Ia senantiasa menantikan dan menyambut kembali anak-anak-Nya yang pernah tersesat, apa pun jalan yang telah mereka tempuh. Jika Allah sendiri berhati selebar itu, siapakah kita untuk berhati lebih sempit daripada-Nya?

 

Rasa Syukur: Lebih Baik Jujur daripada Munafik

Sebagai umat beriman, kita diajar untuk saling mengampuni dan saling menerima saudara, baik dalam kelebihan maupun kekurangannya. Barangkali, alih-alih hanya berkubang dalam kekecewaan, ada ruang bagi kita untuk juga bersyukur. Sebab, bukankah lebih baik seorang saudara berterus terang tentang pergulatan hatinya, lalu dengan berani mengambil keputusan meski berat, daripada ia terus hidup dalam kepura-puraan dan kemunafikan bertahun-tahun? Barang kali baik ia hidup jujur dan bahagia sesuai jalan yang benar-benar ia yakini, daripada mengenakan jubah tanpa hati yang sungguh ada di dalamnya. Kejujuran, betapapun pahit rasanya bagi kita yang menyaksikan, tetap lebih mulia daripada kepalsuan yang dipertahankan demi menjaga citra.

 

Penutup: Berdoa dan Menerima dengan Lapang Dada

Maka, sebagai umat dan sebagai jiwa-jiwa yang ingin belajar dari semangat Fransiskan sejati, marilah kita belajar menerima keputusan saudara kita dengan lapang dada. Bukan berarti kita membenarkan segala hal tanpa syarat, sebab tetap ada jalan, proses, dan konsekuensi yang mesti ditempuh dengan tertib. Namun di atas segalanya, marilah kita belajar mendoakannya, sebagaimana Fransiskus mendoakan saudara-saudaranya yang lemah; menerimanya sebagai saudara, sebagaimana Bapa menerima anak yang hilang; dan bersyukur atas kejujuran yang telah ia perjuangkan, meski dengan harga yang tidak murah. Sebab pada akhirnya, iman bukanlah tentang siapa yang tidak pernah jatuh, melainkan tentang siapa yang, dalam kejatuhannya, tetap dirangkul oleh kasih yang tak pernah berhenti mencari jalan pulang.

Sumber: Kitab Suci, KHK, Fransiskus Asisi Karya-Karyanya, Dinamika Gerakan Religius Fransiskus Asisi dan beberapa sumber lain yang mendukung.

 

17/12/2025

Orang tua zaman dahulu punya kebiasaan unik: menegur tanpa memarahi, menasihati tanpa ceramah, dan menyindir tanpa harus mengangkat alis. Salah satu senjata andalan mereka adalah amaedola; ungkapan bijak yang pendek, padat, dan kalau direnungkan lama-lama, bisa bikin kita menggaruk kepala sendiri.

Pohon Boli [Dok. Pribadi]
Salah satu amaedola itu berbunyi: “hulö atoru mbua mboli”, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih mengatakan “bagaikan buah kayu boli yang jatuh”. Kedengarannya sederhana, bahkan agak polos. Tapi seperti kopi tanpa gula, pahitnya baru terasa setelah diteguk perlahan.

Agar tidak salah tangkap, amaedola ini sebenarnya punya versi lengkap:
Hulö atoru mbua mboli, i’anöröi danö wezawili” atau “bagaikan buah kayu boli yang jatuh, ia berserak ke berbagai penjuru”. Versi pendeknya sering dipakai, mungkin karena orang tua dulu percaya: yang terlalu panjang kadang justru mengurangi daya pukul makna.

Sekarang mari kita lihat dulu dengan objek utama yang digunakan dalam amaedola ini, yakni kayu boli. Namanya sengaja dipertahankan dalam bahasa Nias, sebab sampai hari ini penulis belum juga ditemukan padanan bahasa Indonesia yang benar-benar “mengena”. Dan memang, ada hal-hal yang kalau diterjemahkan, rasanya malah kehilangan rohnya.

Kayu boli ini unik. Ia tumbuh tegak, seolah gagah dan percaya diri, padahal batangnya rapuh dan berongga. Sekali patah dan menyentuh tanah, apalagi saat hujan rajin turun, ia cepat lapuk. Tapi jangan remehkan: kayu ini juga terkenal bandel dalam hal hidup. Dipakai sebagai tiang jemuran, ditancapkan ke tanah, eh malah tumbuh tunas baru. Ini ibarat mati segan, hidup pun tetap jalan.

Tampilan Buah Pohon Boli [Dok. Pribadi]
Dalam kepercayaan masyarakat Nias, kayu boli bahkan dipercaya kebal petir. Maka ia sering dipasang sebagai kayu tertinggi di bumbungan rumah. Hal ini semacam penantang petir versi tradisional. Apakah ini sudah diuji laboratorium? Belum. Tapi dalam budaya, tidak semua yang dipercaya harus menunggu jurnal internasional. Daunnya pun dipercaya bisa menurunkan demam anak; direbus, lalu airnya dipakai mandi. Ilmu dapur dan pengalaman turun-temurun sering kali lebih cepat bekerja daripada obat apotik.

Namun pusat perhatian amaedola ini bukan pada batang atau daunnya, melainkan pada buahnya. Buah kayu boli saat masih hijau tampak biasa saja: panjang, ramping, dan tidak mencurigakan. Tapi ketika kering, barulah ia menunjukkan sifat aslinya. Buah itu terbuka, dan keluarlah biji-biji tipis, pipih, dikelilingi semacam “sayap” kertas. Ringan sekali. Kena angin sepoi saja, langsung melayang, ke kanan, ke kiri, entah ke mana. Hampir mustahil ia jatuh tenang di pangkal pohonnya sendiri, seperti buah-buah yang tahu asal-usul.

Di sinilah pesan amaedola itu duduk manis sambil menyilangkan kaki.

Pohon yang rapuh melahirkan buah yang tak kalah rapuh. Hal ini mau menyiratkan akan karya apa pun bentuknya, yang lahir dari tekad setengah matang dan prinsip yang samar-samar, hasilnya pun tipis dan mudah terombang-ambing. Sedikit angin kritik, langsung beterbangan. Sedikit godaan, arah pun berubah. Tidak jelas mau ke mana, apalagi mau jadi apa.

Hulö atoru mbua mboli akhirnya bukan sekadar cerita tentang pohon dan buah, melainkan cermin halus tentang karya dan kehidupan. Bahwa sesuatu yang tidak ditanam dengan dasar yang kuat, tak akan pernah jatuh dengan tujuan yang jelas. Ia hanya akan berserak ramai sebentar, lalu hilang tanpa jejak.

Pada akhirnya, orang tua zaman dahulu dan kita saat ini pun, dengan senyum tipis dan nada santai, cukup berkata satu kalimat saja. Sisanya, biarlah angin dan akal sehat yang bekerja. Ya’ahowu!

Oleh Kat. Ingatan Sihura.

Di Gunungsitoli, 17 Desember 2025.

15/12/2025

OROISA NATAL

PGI DAN KWI

TAHUN 2025

FE’ASO LOWALANGI MÖI MANGORIFI DOZI NGAMBATÖ

(fahela ba Matai’o 1:21-24)



Ya’ami ira talifusö ni’omasi’ö,

  1. Inötö wanunu fandru, no sambua inötö wangowasaini fe’aso Lowalangi bakha ba mboto Yesu Keriso si tumbu ba gotalua soi niha, simanö göi bakha ba wongambatösada zamösana. Faduhu dödöda wa lala halöwö fangorifi andrö khö Lowalangi, alua ba tarasoi bakha gotalua wongambatösada zamösana.
  2. Molo’ö Matai’o 1:21-24, ifönui wawu’usa li fangorifi andrö Lowalangi, ya’ia ba wa’atumbu Yesu, Emanu’eli - awöda Lowalangi, ba gotalua wongambatösa Maria ba Yosefo. Töi Yesu andrö tenga ha ba wangoroma’ö haniha Ia ba hewisa mbuambua zi samösa niha, ba hiza siföföna sibai ba wangoroma’ö lala halöwöNia, si no samösa sangorifi soi sifaduhu tödö, moroi ba horöra. Ifangöhösi Matai’o wa fa’atumbu Yesu andrö si no mesia, moroi ba dabina Maria, ono alawe, no famönui fama’ele’ö andrö ba Gamabu’ula Li Siföföna (fahela Yesaya 7:14).
  3. I’oguna’ö Lowalangi wongambatösa Maria ba Yosefo bakha ba lala halöwö fangöhöli andrö khöNia, soguna ba soi niha ma’afefu, hewa’ae lö afönu mo’ofanöwa. Ba wamobörö so wa’edöna khö Yosefo ba wondröi Maria ba zi lö nininini, ba hiza iwuwu gohitö dödönia andrö me no irongo wehede mala’ika andrö ba wangifi (Matai’o 1:20 ba 24). Fa’edöna Yosefo wangai Maria andrö tobali fo’omonia, no tandra wanema’ö niha sifaduhu tödö ba mbu’u li fangorifi andrö khö Lowalangi ba fanötöna we’aso Emanu’eli andrö. Faduhu dödö Yosefo ba wehede mala’ika andrö ba wangifi, wa sindruhu ifalua Lowalangi lala halöwö fangorifi andrö khöNia, sifao fongambatösania. Ba zimanö, sifao Maria andrö i’oroma’ö wa dozi ngambatö si lö faröi khö Lowalangi, tola tobali ndrela howuhowu ba fangorifi ba gulidanö (Matai’o 1:19-20).
  4. Fa’atumbu Yesu Keriso ba gotalua wongambatösa awö lala wanema’ö Maria ba Yosefo, zamohouni amakhaita ba wongambatösara bakha ba haga gohitö dödö Lowalangi, mondrege fagöna sibai ba wamo’eluaha ngawalö zalua ni’otahögö wongambatösa ba ginötö andre. Wa’oya zalua ba wongambatösa, zasese mamoto fahasara dödö, bagotaluania: famasafi ba fabalisa wongambatö, faudusa ba wongambatö, fa’ambö lala wangalui, mai online (judol), famiza online (pinjol), daludalu famakiko (narkoba), faya’osa ba fangerangera dali gefe. Menemene si so bakh aba zura Matai’o 1:21-24 ifehulu dödöda ena’ö sifao ba sihulu tödö ita ba wombali’ö fongambatösa tobali nahia we’aso Lowalangi ba nahia wamalua lala halöwö fangorifi andrö khöNia soguna ba niha. Fongambatösa ba no nahia nama ba ina wangai lala halöwö sifagölötö, awö wangonorogö tödö soguna ba ngambatönia, iraono, ba gofu haniha nifataro Lowalangi bakha ba ngambatö. Fongambatösa ba no Gereja side’ide, nahia siföföna sibai ba wa’omasi andrö la’o’aurifagö.
  5. Fangowasaini fanunu fandru tobali inötö sifagöna sibai ba khöda ba wo’erönusi awö worasoi lala halöwö Lowalangi si so ba wangorifi, sifao famadöhö ba fangabölö’ö lala wa’auri wongambatösa. Ba zimanö, no sinangea wa fongambatösa niha Keriso tobali nahia wamondrondrongo ohitö dödö Lowalangi ba ba wamalua ya’ia. Sökhi sibai göi na buabua wa’aniha Keriso la’o’aurifagö ero zamösana ndrotondroto wongambatösa. Salua andrö ba tola möi fangehao ba Gereja, ba soi, ba ba gulidanö.
  6. Iada’e, Gereja ba Indonesia ba fefu niha larasoi göi ngawalö wangiwa dödö so’amakhaita ba soi Indonesia, ngawalö wasosota ba niha, ba zinanö si so ba zifasui, sekola, ba ba hada. Sambua mbörö watola alua fefu zalua andrö ya’ia wa’akharikhari dödö niha ba wolo’ö isö dödö moroi ba gohitö dödö Lowalangi. Ba zimanö, dozi fongambatösa moguna owölö’ölö ba osili wamondrondrongo ba fangofönai’ö Lowalangi, irege sindruhu tola tarasoi lala halöwö fangorifi andrö khö Lowalangi, so khöda wa’abölö ba wanaögö, ba tobali göi dela howuhowu ba gotalua wangiwa dödö si so andrö. Me moguna sibai wongambatösa sitobali nahia we’aso Lowalangi ba ba wamalua lala halöwö fangorifi niha andrö, ba zimanö moguna mube’e dödö ba wamaha’ö fongambatösa niha Keriso andrö i’otarai ginötö famobörö wamasindro ya’ia, inötö wangowalu, ba sagötö gofanöwa wongambatösa.
  7. Madönisi göi dozi wongambatösa niha Keriso ba worasoi fe’aso Lowalangi ba wamohouni mangawuli amakhaita ba khö Lowalangi ba ba nawö, simane si no ifodumaduma fongambatösa Nazareta. Moroi ba wanörö tödö fanunu fandru andre, fe’aso Keriso ba wangorifi fongambatösada zamösana. Ba zimanö ero fongambatösa niha Keriso tola tobali ndrela wa’omasi Lowalangi sangorifi ösi gulidanö.
  8. Ya börö wangowasaini fanunu fandru andre, tola tarasoi mangawuli we’aso Lowalangi sangorifi andrö. Ya lö mamalö omoda, fongambatöda, tobali nahia wamohouni amakhaita ba khö Lowalangi ba ba khö nawöda, tesusugi mangawuli wanötöna, te’abölö’ö wa’omasi, ba famati ni’a’aro’ö. Ya ero zamösana ösi wongambatösada larasoi wa sindruhu we’aso Lowalangi, si lö faröi, samohouni, ba sangorifi ya’ita.
  9. Ba gafuriata, ba döi PGI ba KWI, ma’owai ami; Ya’ahowu Wanunu Fandru ba ndröfi 2025 andre ba Ya’ahowu Ndröfi Sibohou ba Ndröfi 2026.

 

Ba döi

 

                                  PGI                                                                         KWI

 

 

           Pdt. Jacklevyn F. Manuputty                Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC

                         (Ketua Umum)                                                   (Ketua Presidium)

 

 

                Pdt. Darwin Darmawan                               Mgr. Adrianus Sunarko, OFM

                     (Sekretaris Umum)                                             (Sekretaris Jenderal)

 

So’ali ba li Nono Niha: Kat. Ingatan Sihura, S.Ag.

21/11/2025

Taroma Li Lowalangi Luo Migu Wa’arazo Zo’aya Ya’ita Yesu Keriso

Fombaso Si-1           : 2Samueli 5:1-3

Fombaso Si-2           : Kolose 1:12-20

Injil                            : Luka 23:35-43


YESU: RAZO SAMELEGÖ NOSO

BA WANGÖHÖLI BA BA WANGEFA’Ö HORÖ NIHA

Me föna ba nono niha, so sambua gamaedola sasese labe’e degudegu ira satua, yaia da’ö: “Haniha nawö si tola mufarisayo, ya’ia nawö sifahuwu me iraono”. Degudegu amaedola andre, sindruhu I’okhögö geluaha sabakha sibai. Fa’abakha geluaha degudegu amaedola andre tefobörö ia ba mbosi wa’a’iraono. Ba zi samösa iraono, tola tasöndra khöra dödö satulö ba si lö fawini. Baero da’ö lö khöra nahönahö dödö sombali’ö tekiko wahuwusara. Hewa’ae asese fa’udu ndraono ba wamadöni öra ma gamagama omasiöra, ba zi lö ara dania no ifulu zui fahuwu ira. Buabua wa’a’iraono andre ba gafuriata tobali ia degudegu ba niha sato sangoroma’ö bua wa’omasi andrö tenga börö wa so hadia ia gohitö dödö, ba hiza fa’omasi andrö alua ia ba wa’ahele dödö ba wahuwusa.

Fa’amate Yesu andrö ba döla röfa, tenga siföföna börö me labunu Ia, ba hiza i, no börö wa’ahele dödö ba fanou’öNia fa’auri wa’anihaNia khö Nama, me Ya’ia zafönu kuaso ba wa’auri andrö. Razo Dawido andrö nifili Ndraono Gizara’eli tobali razo, no famaedo Yesu Keriso si so kuaso ba gulidanö ma’afefu. Kuaso si so ba dangaNia andrö, lö I’oguna’ö ba wamadaö, ba hiza lö mamalö tobali foluluNia fa’auriNia ba gamatöröwa Nama. Andrö dania wa Itehe te’o’aya Ia, teforöfa mbotoNia irege mate ba döla röfa.

FoluluNia Ya’ia irege mate ba döla röfa, no möi börö wangöhölida ya’ita niha samati khöNia. Ba zimanö tobali ia khöda famaedo ba wanema’ö fanandraigö ba fa’afökhö andrö; me fefu da’ö tobali ndrela ia khöda ba wanöndrada fa’auri si lö aetu. Andrö te’andrö khöda ena’ö lö mo’aetufa göi ta’erönusi lala wa’aurida, aboto ba dödöda nifaluada, ba lö aetu monoro tödö ita ba wamalua si sökhi ba mbotoda samösa, ba nawöda niha ba ba zifasui ya’ita. Da’e gohitö dödö Waulo andrö nifa’emania ba mbanua Golose; no tobali sia’a khöda Keriso andrö wame’e dumaduma, ba zimanö mo’ömö dödöda ba wangolohia’ö wolauNia.

Na ta’ila ta’olohia’ö wolau simanö, no enahöi wamaedo khöda niha niforöfa andrö si so ba gambölö Yesu; saboto ba dödö horö ba nifaluania. Hiza börö me anehe ia wamakao Yesu andrö, faduhu dödönia khö Yesu, ba i’andrö wa’ahakhö dödö khö Yesu. Saluania, isöndra wa’ahakhö dödö Yesu, irege tobali ia awöNia ba waradaiso andrö.

Ba gafuriata, aboto ba dödöda wa fa’arazo Keriso andrö tenga ena’ö ba wangalui fangebua’ö töiNia, ba hiza no folulunia fa’auriNia ba danga Nama, ba wangöhöli ya’ita niha gulidanö. Simane buabua ndraono andrö, lö khöra fawinisa tödö, ba hiza ha fa’ahele dödö ba wariawösa. Bua wa’ahele dödö si no i’oroma’ö Yesu andrö, no sinangea ta’olohia’ö ia ba lala wa’aurida irege ba gafuriata sowulo göi ita ba gamatöröwa wa’arazoNia andrö irugi zi lö aetu. Amen.

27/09/2025

Luo Migu Biasa – 18

Fombaso I      : Amosi 6:1a.4-7

Fombaso II    : 1Timoteo 6:11-16

Injil                 : Lukas 16:1931

 

Turia Somuso Dödö khö Yesu Keriso nisura Yohane.-

 

Me luo da'ö, Ilau gamaedola andre Yesu, Imane: "So samösa niha sikayo, sonukha si sökhi sibai. Ba ero ma'ökhö i'omusoi'ö manö dödönia, lö ambö'ambö hadia ia. So göi samösa zi numana, Lazaro döi, safönu gimögimö zi sageu botonia. Sito'ölönia i'iagö gahe nora niha si kayo no mege, ena'ö tola ifo'ösi dalunia faoma akhökhöla gö satoru moroi ba meza niha si kayo andrö. Ba so göi nasu, lafelafelai gigimönia andrö.

Samuza ma'ökhö, mate zi numana andrö, ba la'ohe ia ira mala'ika ba gaheta Gaberahamo. Ba mate göi niha si kayo andrö, ba lako'o ia. Itaögö sibai wa'amarase ba nahia zi mate andrö. Me ifaöga hörönia, i'ila Gaberahamo ba zaröu awö Lazaro, ba gahetania. Mu'ao niha sikayo andrö: "He amagu Aberahamo, hakhösi tödö ndra'o. Fatenge Lazaro andrö, ena'ö i'ungugö zara nuwu durunia ba nidanö, ba wangokafui lelagu. Marase sibai ndra'o ba holahola galitö andre."

Imane Aberahamo : "He onogu, törötörö tödöu, wa no ötema zi sökhi andrö, tana khöu, götö we'asomö ba gulidanö, ba no itema zi lö sökhi Lazaro. Iada'e terara dödönia ba da'e; ba ya'ugö zi marase. Baero da'ö, no so mbaho sabakha ba gotaluada, ena'ö böi möi niha moroi ba da'e numalö ba khömi, ba si otarai khömi, böi möi ba da'e." Imane niha si kayo andrö: "Na simanö, ama, u'andrö sibai khöu, ena'ö öfatenge Lazaro andrö we'amöi ba nomogu, ba zi so nasa dalima tö ndra talifusögu, ena'ö ifangelama ira, fa böi möi ira göi ba naha wa'amarase andre." Imane Aberahamo: "No so khöra mbuku Moze awö mbuku ndra sama'ele'ö; akha lafondrondrongo da'ö." Imane niha si kayo andrö: "Ai, lö'ö, amagu Aberahamo, ha na möi khöra niha si otarai zi no mate, awena lafalalini gera'erara." Imane khönia Aberahamo: "Na lö ba dödöra Moze, awö ndra sama'ele'ö, lö göi mamati ira, na so niha si maoso moroi ba zi no mate".-                                                         

 

Simanö duria somuso dödö khö Zo'aya ya'ita, Yesu Keriso.-

 

FANGOBADÖDÖI AWÖ NO BUA WAMADUHU’Ö FAMATI

Ba zi sambua banua, so samösa niha si kayo ba sowölö’ölö sibai möi ba gereja ero luo migu, sotöi Ama Warisa. Ba dödönia omasi sibai falukha ia khö Yesu, irege i’ohe ba wangifinia. Ba wangifinia, Iwa’ö khönia Yesu, wa möi Ia tomenia ba nomo mahemolu. Me giarö ia moroi ba wemörö andrö, i'anema’ö isusugi wo’omonia ba wangehao omo ba ba wondrino gö sami.

Fatutu fa’amoluo me no awai lafa’anö ira, ilau teu toho. So samösa nono sekola sanörö föna nomonia si no abasöbasö. Me i’ila da’ö Ama Warisa, ahakhö sibai dödönia irege ibe’e wayo ba sambua nukha khö nono andrö ena’ö tola möi ia sekola mangawuli. Ba dalu laluo, so göi samösa nina sedöna tetabi ba hiza lö la’ila la’ohe ba nomo zofökhö me abölö sibai deu. La’andrö tolo khö Nama Warisa wamesao faoma motonia. Sifao fa’abua gölönia börö wombalobaloi Yesu, tomenia, i’alio’ö wamesao. Hiza me mangawuli ia, so samösa ndra’alawe nifofanö namania, me no mohorö ia. I’andrö ena’ö tola toröi ia ba nomo nama Warisa gasagasa wombase’ö ono matua sohoröni ya’ia andrö wamaondragö ya’ia.

Me arakhagö aekhu luo, ibörögö afatö dödö Nama Warisa me lö manö tohare Yesu, tomenia. Andrö tehasu ia ba gurusi, alau hörönia, ba mangifi ia. Ba wangifinia andrö falukha ia khö Yesu ba ilua’ö wa’afatö dödönia; “He tua, ma’öma’ökhö ubaloi’Ö ba lö manö so’Ö”. Itema linia Yesu; “Alai ndra’o ndra’ugö le. No medölu ötema’ö ndra’o ma’ökhö”. Tokea Nama Warisa, ba omuso dödönia.

Salua khö Nama Warisa andre, no möi famokai dödöda ba wo’erönusi Taroma li Lowalangi nifarongogö ba luo migu si 26 andre, ena’ö satuatua ba wangoguna’ö harato gulidanö andrö. Harato andrö göi moguna ba lala wa’auri niha, me da’ö göi zanundreheni lala wangalui ba lala wa’auri. Hiza i, ena’ö siföfönania, harato andrö tobali dela ba wamolakhömi Lowalangi ba ba wangobadödöi awö.

Bakha ba duria somuso dödö andrö oroma sibai hadia mbörö wa’itaögö wa’amarase ba galitö andrö niha sikayo, ba te’ohe göi ba gaheta Gaberahamo, Lazaro andrö. Alaua da’ö ba niha sikayo, börö me so nasa ia ba gulidanö, lö i’oguna’ö gokhötania andrö ba wangobadödöi awö ya’ia Lazaro andrö. No ihalö sahono dödönia gokhöta andrö, irege lö sa’ae tödönia ba niha sangandrö tolo. Ba gafuriata, alai niha simanö iwa’ö Amosi sama’ele’ö (fahela ba wombaso si sara).

Ena’ö tola atuatua ba wangoguna’ö okhöta gulidanö andrö, moguna so wamati saro ba khö Keriso. Menemene waulo andrö khö Dimoteo (fahela ba wombaso si dua) moguna ta’okhögö; “Aröu’ö fefu zi lö sökhi, gohi wa’atulö, fa’alöfaröi, famati, fa’omasi, fa’ebolo dödö ba fa’asökhi dödö”. Ba zimanö oroma niha samati andrö; tenga ha me no so ia ba gotalua nono wobanua, ba hiza oroma göi ia wa no ono Lowalangi, sangoroma’ö bua wamatinia khö Yesu Keriso. Amen.