Nikhoi
Gi'iwa ba Go’o:
Amaedola
Nias tentang Seni Meredam Masalah
Masyarakat
Nias mewarisi sebuah amaedola atau pepatah atau ungkapan bijak dalam tradisi
lisan mereka, yang sering dilantunkan dalam musyawarah adat maupun nasihat
sehari-hari. Salah satu yang paling dalam maknanya berbunyi:
Berada di padang ilalang di salah satu paroki. Sumber Foto: Dok. Pribadi.
Böi ya nikhoi gi'iwa, böi ya nikhai go'o, no möi nibole wato, no möi nikhai doho. Ena'ö atö sadumba daludalu ba sambua lauru wamönö ndro. Ena'ö i nibole wato, ena'ö i nikhai doho, mubali'ö nikhoi gi'iwa nikhoi go'o. Ena'ö hatö sajuyu daludalu ba hatö zai tuturu wamönö ndro.
Diterjemahkan ke bahasa
Indonesia, kurang lebih berbunyi:
Jangan sampai yang digores semak berduri, jangan sampai yang digores alang-alang, sudah jadi yang dibelah kapak, sudah jadi yang kena tombak. Supaya satu Dumba obat, supaya satu Lauru penyumpal darah. Namun, Hendaknya yang dibelah kapak, hendaknya yang kena tombak, dijadikan menjadi yang digores semak berduri, menjadi yang digores alang-alang. Supaya tinggal segenggam obatnya Supaya tinggal secuil penyumpal darah.
Sekilas
terdengar seperti mantra pengobatan luka. Tapi amaedola ini sebenarnya sedang
bicara tentang sesuatu yang jauh lebih luas: cara masyarakat Nias memandang dan
menangani sebuah persoalan.
Empat Media, Empat Ukuran
Untuk
memahami amaedola ini, ada baiknya menyimak dulu media atau perumpamaan yang
digunakan di dalamnya, karena leluhur Nias menyusunnya bukan tanpa perhitungan.
Semak berduri dan alang-alang adalah rumput liar dengan tepi daun yang tajam, biasa
melukai siapa saja yang melintasi padang rumput. Goresannya cenderung ringan
dan dangkal.
Kapak dan tombak, sebaliknya, adalah alat tajam yang bisa menimbulkan
luka serius bila mengenai tubuh manusia.
Dumba dan lauru
adalah alat ukur beras tradisional. Satu dumba setara kira-kira satu liter,
sementara satu lauru setara lima dumba atau sekitar lima liter. Dalam amaedola
ini, keduanya menjadi simbol takaran ramuan obat.
Genggaman tangan dan secuil menjadi simbol ukuran yang paling kecil, nyaris tak
berarti.
Keempat media ini disusun
dalam sebuah pola yang saling berkebalikan di dua bait. Pada bait pertama,
gerakannya dari kecil ke besar — luka ringan (goresan semak berduri) berubah
jadi luka berat (sayatan kapak), sehingga membutuhkan pengobatan besar (satu
lauru penuh). Pada bait kedua, arah itu dibalik — luka besar hendaknya
"diubah" kembali menjadi sekadar goresan ringan, sehingga cukup
diobati dengan segenggam ramuan saja.
Makna: Jangan Besarkan yang
Kecil, Kecilkan yang Besar
Dari susunan media dan pola
tersebut, makna amaedola ini sebenarnya sudah mulai terlihat dengan sendirinya.
Pesan intinya adalah: jangan
biarkan hal kecil menjadi besar, jangan sampai persoalan dibesar-besarkan atau
dibiarkan berlarut-larut. Sebaliknya, bila sebuah masalah sudah terlanjur
membesar, biarlah ia "dikecilkan" kembali agar bisa segera diatasi,
bukan dipelihara hingga makin sulit disembuhkan.
Amaedola ini biasa digunakan masyarakat Nias sebagai sarana mediasi tatkala muncul perselisihan, sekaligus menjadi pengingat bersama untuk meminimalisir keadaan yang mencekam akibat konflik yang dibiarkan membesar. Ia menempatkan penyelesaian damai bukan sebagai pilihan yang lemah, melainkan sebagai kebijaksanaan yang lebih besar, sebagaimana luka kecil yang dibiarkan sembuh dengan segenggam obat, tanpa perlu menunggu sampai berdarah-darah dahulu.
0 comments:
Posting Komentar