Just another free Blogger theme

Website ini memuat Tulisan, Refleksi, Katekese, dan Renungan dari Katekis Ingatan Sihura. Website ini kemudian merupakan bagian dari memaksimalkan media yang ada menjadi sarana pewartaan. Semoga bermanfaat. Ya'ahowu!

04/08/2026

Nikhoi Gi'iwa ba Go’o:

Amaedola Nias tentang Seni Meredam Masalah

Masyarakat Nias mewarisi sebuah amaedola atau pepatah atau ungkapan bijak dalam tradisi lisan mereka, yang sering dilantunkan dalam musyawarah adat maupun nasihat sehari-hari. Salah satu yang paling dalam maknanya berbunyi:

Berada di padang ilalang di salah satu paroki. Sumber Foto: Dok. Pribadi.

Böi ya nikhoi gi'iwa, böi ya nikhai go'o, no möi nibole wato, no möi nikhai doho. Ena'ö atö sadumba daludalu ba sambua lauru wamönö ndro. Ena'ö i nibole wato, ena'ö i nikhai doho, mubali'ö nikhoi gi'iwa nikhoi go'o. Ena'ö hatö sajuyu daludalu ba hatö zai tuturu wamönö ndro.

Diterjemahkan ke bahasa Indonesia, kurang lebih berbunyi:

Jangan sampai yang digores semak berduri, jangan sampai yang digores alang-alang, sudah jadi yang dibelah kapak, sudah jadi yang kena tombak. Supaya satu Dumba obat, supaya satu Lauru penyumpal darah. Namun, Hendaknya yang dibelah kapak, hendaknya yang kena tombak, dijadikan menjadi yang digores semak berduri, menjadi yang digores alang-alang. Supaya tinggal segenggam obatnya Supaya tinggal secuil penyumpal darah.

Sekilas terdengar seperti mantra pengobatan luka. Tapi amaedola ini sebenarnya sedang bicara tentang sesuatu yang jauh lebih luas: cara masyarakat Nias memandang dan menangani sebuah persoalan.

Empat Media, Empat Ukuran

Untuk memahami amaedola ini, ada baiknya menyimak dulu media atau perumpamaan yang digunakan di dalamnya, karena leluhur Nias menyusunnya bukan tanpa perhitungan.

Semak berduri dan alang-alang adalah rumput liar dengan tepi daun yang tajam, biasa melukai siapa saja yang melintasi padang rumput. Goresannya cenderung ringan dan dangkal.

Kapak dan tombak, sebaliknya, adalah alat tajam yang bisa menimbulkan luka serius bila mengenai tubuh manusia.

Dumba dan lauru adalah alat ukur beras tradisional. Satu dumba setara kira-kira satu liter, sementara satu lauru setara lima dumba atau sekitar lima liter. Dalam amaedola ini, keduanya menjadi simbol takaran ramuan obat.

Genggaman tangan dan secuil menjadi simbol ukuran yang paling kecil, nyaris tak berarti.

Keempat media ini disusun dalam sebuah pola yang saling berkebalikan di dua bait. Pada bait pertama, gerakannya dari kecil ke besar — luka ringan (goresan semak berduri) berubah jadi luka berat (sayatan kapak), sehingga membutuhkan pengobatan besar (satu lauru penuh). Pada bait kedua, arah itu dibalik — luka besar hendaknya "diubah" kembali menjadi sekadar goresan ringan, sehingga cukup diobati dengan segenggam ramuan saja.

Makna: Jangan Besarkan yang Kecil, Kecilkan yang Besar

Dari susunan media dan pola tersebut, makna amaedola ini sebenarnya sudah mulai terlihat dengan sendirinya.

Pesan intinya adalah: jangan biarkan hal kecil menjadi besar, jangan sampai persoalan dibesar-besarkan atau dibiarkan berlarut-larut. Sebaliknya, bila sebuah masalah sudah terlanjur membesar, biarlah ia "dikecilkan" kembali agar bisa segera diatasi, bukan dipelihara hingga makin sulit disembuhkan.

Amaedola ini biasa digunakan masyarakat Nias sebagai sarana mediasi tatkala muncul perselisihan, sekaligus menjadi pengingat bersama untuk meminimalisir keadaan yang mencekam akibat konflik yang dibiarkan membesar. Ia menempatkan penyelesaian damai bukan sebagai pilihan yang lemah, melainkan sebagai kebijaksanaan yang lebih besar, sebagaimana luka kecil yang dibiarkan sembuh dengan segenggam obat, tanpa perlu menunggu sampai berdarah-darah dahulu.


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar