Just another free Blogger theme

Website ini memuat Tulisan, Refleksi, Katekese, dan Renungan dari Katekis Ingatan Sihura. Website ini kemudian merupakan bagian dari memaksimalkan media yang ada menjadi sarana pewartaan. Semoga bermanfaat. Ya'ahowu!

31/07/2026

KETIKA SAUDARA PULANG KE JALAN LAIN

Oleh, Sdr. Ingatan Sihura

 

Ada berita yang selalu mengguncang hati umat: seorang saudara Fransiskan, yang juga seorang imam, memutuskan meninggalkan biaranya, melepaskan jubahnya, dan pada akhirnya memilih untuk menikah. Bagi sebagian orang, ini terasa seperti keruntuhan sebuah menara yang dibangun bertahun-tahun. Bagi yang lain, ini adalah pertanyaan yang menusuk: bagaimana mungkin janji yang begitu khidmat bisa diingkari?

Gambaran Ilustrasi. Sumber: ChatGPT.

Tulisan ini tidak hendak menghakimi, juga tidak hendak membenarkan begitu saja. Ia hendak mengajak kita duduk sejenak, memandang peristiwa ini dengan mata St. Fransiskus dari Assisi, seorang yang dikenal karena kelembutannya, tetapi juga karena kejujurannya menghadapi kelemahan manusia, termasuk kelemahan saudara-saudaranya sendiri.

 

Pilihan yang Dimeteraikan dengan Janji

Menjadi seorang biarawan Fransiskan sekaligus imam bukanlah nasib yang jatuh dari langit. Ia adalah pilihan yang lahir dari pergulatan batin panjang, dari doa, dari bimbingan rohani, dari tahun-tahun formasi yang menempa jiwa dan tubuh. Pilihan itu kemudian dinyatakan dalam janji: janji hidup selibat, janji kemiskinan dan ketaatan, serta janji untuk mengabdi Allah sebagai imam dalam Gereja Katolik.

Namun justru di sinilah letak kerapuhan yang harus jujur kita akui: sebuah janji, seagung apa pun, tetaplah janji manusia. Ia bukan jaminan otomatis, melainkan komitmen yang harus terus-menerus diperjuangkan hari demi hari. Yesus sendiri pernah berkata kepada murid-murid-Nya di Getsemani, ketika mereka tertidur. Alih-alih berjaga bersama-Nya, mereka justru tertidur pulas. Di sini tampak bahwa roh memang penurut, tetapi daging lemah (Mat. 26:41). Rasul Paulus mengalami pergulatan yang sama dalam dirinya sendiri: ia mengakui bahwa kehendak baik selalu ada padanya, tetapi kemampuan untuk melaksanakannya secara konsisten adalah pertempuran yang tak pernah usai (bdk. Rm. 7:15–19).

Ayat-ayat ini bukan alasan untuk membenarkan pengingkaran janji, tetapi pengingat rendah hati bahwa niat yang kuat pun bisa goyah oleh kelemahan tubuh dan hati. Janji bukan berarti tidak bisa diingkari secara faktual. Manusia bisa saja melanggarnya, namun janji menuntut kekuatan hati yang serius, sebuah kesetiaan yang harus terus diperbarui, bukan sekali diucapkan lalu selesai.

 

Tanggung Jawab dan Konsekuensinya

Ketika seorang saudara Fransiskan memutuskan keluar dari biara dan meninggalkan tugas imamatnya, itu menjadi tanggung jawabnya sendiri di hadapan Allah dan hati nuraninya. Namun keputusan itu bukan berarti ia bisa begitu saja "pergi tanpa jejak". Ada jalan yang harus ditempuh: pengurusan pembebasan dari tugas imamat (laikalisasi) dan proses resmi pengembaliannya menjadi awam. Gereja, melalui Kitab Hukum Kanonik, menegaskan bahwa hilangnya status klerikal tidak dengan sendirinya melepaskan seseorang dari kewajiban selibat, dispensasi atas kewajiban itu hanya dapat diberikan oleh Sri Paus (bdk. KHK kan. 291). Artinya, jalan pulang ke kehidupan awam, termasuk untuk menikah secara sah dalam Gereja, adalah jalan yang tertata, bukan jalan pintas yang bisa ditempuh sembarangan.

Ini penting untuk dipahami bukan sebagai birokrasi yang kaku, melainkan sebagai bentuk penghormatan Gereja terhadap kesungguhan sebuah janji, sekaligus penghormatan terhadap kesungguhan manusia yang ingin menata ulang hidupnya dengan jujur dan bertanggung jawab, bukan dengan sembunyi-sembunyi.

 

Kekecewaan Umat yang Manusiawi

Sebagai umat, wajar jika hati kita kecewa. Proses menjadi biarawan, apalagi hingga tahbisan imamat, bukanlah perjalanan singkat. Ia menempuh bertahun-tahun formasi, biaya yang tidak sedikit, serta dukungan doa dan harapan begitu banyak orang yang menaruh kepercayaan padanya. Ketika semua itu kemudian "berakhir" dengan keputusan meninggalkan panggilan, kekecewaan adalah reaksi yang wajar dan manusiawi. Tidak perlu kita menyangkalnya atau berpura-pura tidak merasa apa-apa.

Namun kekecewaan ini juga tidak perlu didramatisasi menjadi kebencian, apalagi menjadi bahan gunjingan yang mempermalukan. Sebab di sinilah kita diundang untuk belajar dari sikap Bapa Pendiri kita sendiri.

 

Sikap St. Fransiskus: Saudara Tetaplah Saudara

St. Fransiskus, ketika berhadapan dengan saudara-saudaranya yang lemah, jatuh, atau bahkan meninggalkan persaudaraan, tidak pernah menjadikan mereka musuh. Ia tidak mempermalukan mereka di hadapan umum. Sebaliknya, ia mendoakan mereka dan memberi nasihat agar tetap dapat hidup menurut semangat Injil. Bagi Fransiskus, seorang saudara yang lemah atau bahkan yang jatuh tetaplah saudara. Ikatan persaudaraan itu tidak putus hanya karena kegagalan atau kelemahan manusiawi.

Sikap ini tampak jelas dalam salah satu Nasihatnya (Admonitiones) yang paling menyentuh: "Berbahagialah orang, yang sabar menerima sesamanya dalam kelemahannya, sebagaimana ia pun ingin diterima oleh sesamanya dengan sabar, sekiranya ia sendiri berada dalam keadaan yang serupa" (Nasihat XVIII). Fransiskus paham betul bahwa setiap orang, termasuk dirinya sendiri, bisa jatuh dalam kelemahan. Karena itu ia mengajak saudara-saudaranya untuk saling menanggung, bukan saling menghakimi. Dalam nasihat lain ia bahkan berkata bahwa yang patut dibanggakan bukan pengetahuan atau kekuatan, melainkan justru kelemahan kita dan kesediaan memikul salib Tuhan setiap hari (bdk. Nasihat V).

Fransiskus tidak pernah menuntut kesempurnaan sebagai syarat kasih. Ia menuntut kejujuran hati dan kerendahan untuk terus kembali kepada Injil, betapapun jatuh berkali-kali.

 

Sikap Gereja: Pintu yang Tidak Pernah Ditutup

Sikap Gereja pun sejalan dengan semangat itu. Gereja tidak menutup pintu bagi saudara yang meninggalkan tugas imamatnya. Pintu penerimaan kembali, baik sebagai umat awam yang penuh, maupun sebagai anggota Gereja yang dikasihi, tetap terbuka. Namun Gereja juga jujur bahwa setiap pilihan hidup baru membawa konsekuensi kanoniknya sendiri. Ketika seseorang yang pernah ditahbiskan hendak menikah, ia perlu terlebih dahulu memperoleh dispensasi dari kewajiban selibatnya, sebab tahbisan meninggalkan meterai rohani yang tidak terhapuskan, meski status klerikalnya sudah dilepaskan. Proses ini, yang dikenal dengan istilah laikalisasi, memastikan bahwa langkah baru itu ditempuh secara sah, tertib, dan penuh tanggung jawab di hadapan Gereja, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai peralihan status hidup yang diakui. Gereja, dengan kata lain, tidak sedang menghukum dengan menutup pintu, tetapi sedang menjaga agar setiap langkah, sesulit apa pun, tetap ditempuh dalam terang dan kejujuran.

 

Sikap Yesus: Bapa yang Berlari Menyambut

Namun dari semua itu, gambaran yang paling menggetarkan hati tetaplah perumpamaan yang diberikan Yesus sendiri: kisah anak yang hilang (Luk. 15:11-32). Anak bungsu yang pergi jauh, menghabiskan segalanya, dan pulang dengan tangan kosong serta hati yang hancur, disambut bukan dengan interogasi atau penghakiman, melainkan dengan pelukan seorang bapa yang telah lama menanti dari kejauhan. Perumpamaan ini adalah gambaran hati Allah yang maharahim. Ia senantiasa menantikan dan menyambut kembali anak-anak-Nya yang pernah tersesat, apa pun jalan yang telah mereka tempuh. Jika Allah sendiri berhati selebar itu, siapakah kita untuk berhati lebih sempit daripada-Nya?

 

Rasa Syukur: Lebih Baik Jujur daripada Munafik

Sebagai umat beriman, kita diajar untuk saling mengampuni dan saling menerima saudara, baik dalam kelebihan maupun kekurangannya. Barangkali, alih-alih hanya berkubang dalam kekecewaan, ada ruang bagi kita untuk juga bersyukur. Sebab, bukankah lebih baik seorang saudara berterus terang tentang pergulatan hatinya, lalu dengan berani mengambil keputusan meski berat, daripada ia terus hidup dalam kepura-puraan dan kemunafikan bertahun-tahun? Barang kali baik ia hidup jujur dan bahagia sesuai jalan yang benar-benar ia yakini, daripada mengenakan jubah tanpa hati yang sungguh ada di dalamnya. Kejujuran, betapapun pahit rasanya bagi kita yang menyaksikan, tetap lebih mulia daripada kepalsuan yang dipertahankan demi menjaga citra.

 

Penutup: Berdoa dan Menerima dengan Lapang Dada

Maka, sebagai umat dan sebagai jiwa-jiwa yang ingin belajar dari semangat Fransiskan sejati, marilah kita belajar menerima keputusan saudara kita dengan lapang dada. Bukan berarti kita membenarkan segala hal tanpa syarat, sebab tetap ada jalan, proses, dan konsekuensi yang mesti ditempuh dengan tertib. Namun di atas segalanya, marilah kita belajar mendoakannya, sebagaimana Fransiskus mendoakan saudara-saudaranya yang lemah; menerimanya sebagai saudara, sebagaimana Bapa menerima anak yang hilang; dan bersyukur atas kejujuran yang telah ia perjuangkan, meski dengan harga yang tidak murah. Sebab pada akhirnya, iman bukanlah tentang siapa yang tidak pernah jatuh, melainkan tentang siapa yang, dalam kejatuhannya, tetap dirangkul oleh kasih yang tak pernah berhenti mencari jalan pulang.

Sumber: Kitab Suci, KHK, Fransiskus Asisi Karya-Karyanya, Dinamika Gerakan Religius Fransiskus Asisi dan beberapa sumber lain yang mendukung.

 


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 comments:

Posting Komentar