Just another free Blogger theme

Website ini memuat Tulisan, Refleksi, Katekese, dan Renungan dari Katekis Ingatan Sihura. Website ini kemudian merupakan bagian dari memaksimalkan media yang ada menjadi sarana pewartaan. Semoga bermanfaat. Ya'ahowu!
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

31/07/2026

KETIKA SAUDARA PULANG KE JALAN LAIN

Oleh, Sdr. Ingatan Sihura

 

Ada berita yang selalu mengguncang hati umat: seorang saudara Fransiskan, yang juga seorang imam, memutuskan meninggalkan biaranya, melepaskan jubahnya, dan pada akhirnya memilih untuk menikah. Bagi sebagian orang, ini terasa seperti keruntuhan sebuah menara yang dibangun bertahun-tahun. Bagi yang lain, ini adalah pertanyaan yang menusuk: bagaimana mungkin janji yang begitu khidmat bisa diingkari?

Gambaran Ilustrasi. Sumber: ChatGPT.

Tulisan ini tidak hendak menghakimi, juga tidak hendak membenarkan begitu saja. Ia hendak mengajak kita duduk sejenak, memandang peristiwa ini dengan mata St. Fransiskus dari Assisi, seorang yang dikenal karena kelembutannya, tetapi juga karena kejujurannya menghadapi kelemahan manusia, termasuk kelemahan saudara-saudaranya sendiri.

 

Pilihan yang Dimeteraikan dengan Janji

Menjadi seorang biarawan Fransiskan sekaligus imam bukanlah nasib yang jatuh dari langit. Ia adalah pilihan yang lahir dari pergulatan batin panjang, dari doa, dari bimbingan rohani, dari tahun-tahun formasi yang menempa jiwa dan tubuh. Pilihan itu kemudian dinyatakan dalam janji: janji hidup selibat, janji kemiskinan dan ketaatan, serta janji untuk mengabdi Allah sebagai imam dalam Gereja Katolik.

Namun justru di sinilah letak kerapuhan yang harus jujur kita akui: sebuah janji, seagung apa pun, tetaplah janji manusia. Ia bukan jaminan otomatis, melainkan komitmen yang harus terus-menerus diperjuangkan hari demi hari. Yesus sendiri pernah berkata kepada murid-murid-Nya di Getsemani, ketika mereka tertidur. Alih-alih berjaga bersama-Nya, mereka justru tertidur pulas. Di sini tampak bahwa roh memang penurut, tetapi daging lemah (Mat. 26:41). Rasul Paulus mengalami pergulatan yang sama dalam dirinya sendiri: ia mengakui bahwa kehendak baik selalu ada padanya, tetapi kemampuan untuk melaksanakannya secara konsisten adalah pertempuran yang tak pernah usai (bdk. Rm. 7:15–19).

Ayat-ayat ini bukan alasan untuk membenarkan pengingkaran janji, tetapi pengingat rendah hati bahwa niat yang kuat pun bisa goyah oleh kelemahan tubuh dan hati. Janji bukan berarti tidak bisa diingkari secara faktual. Manusia bisa saja melanggarnya, namun janji menuntut kekuatan hati yang serius, sebuah kesetiaan yang harus terus diperbarui, bukan sekali diucapkan lalu selesai.

 

Tanggung Jawab dan Konsekuensinya

Ketika seorang saudara Fransiskan memutuskan keluar dari biara dan meninggalkan tugas imamatnya, itu menjadi tanggung jawabnya sendiri di hadapan Allah dan hati nuraninya. Namun keputusan itu bukan berarti ia bisa begitu saja "pergi tanpa jejak". Ada jalan yang harus ditempuh: pengurusan pembebasan dari tugas imamat (laikalisasi) dan proses resmi pengembaliannya menjadi awam. Gereja, melalui Kitab Hukum Kanonik, menegaskan bahwa hilangnya status klerikal tidak dengan sendirinya melepaskan seseorang dari kewajiban selibat, dispensasi atas kewajiban itu hanya dapat diberikan oleh Sri Paus (bdk. KHK kan. 291). Artinya, jalan pulang ke kehidupan awam, termasuk untuk menikah secara sah dalam Gereja, adalah jalan yang tertata, bukan jalan pintas yang bisa ditempuh sembarangan.

Ini penting untuk dipahami bukan sebagai birokrasi yang kaku, melainkan sebagai bentuk penghormatan Gereja terhadap kesungguhan sebuah janji, sekaligus penghormatan terhadap kesungguhan manusia yang ingin menata ulang hidupnya dengan jujur dan bertanggung jawab, bukan dengan sembunyi-sembunyi.

 

Kekecewaan Umat yang Manusiawi

Sebagai umat, wajar jika hati kita kecewa. Proses menjadi biarawan, apalagi hingga tahbisan imamat, bukanlah perjalanan singkat. Ia menempuh bertahun-tahun formasi, biaya yang tidak sedikit, serta dukungan doa dan harapan begitu banyak orang yang menaruh kepercayaan padanya. Ketika semua itu kemudian "berakhir" dengan keputusan meninggalkan panggilan, kekecewaan adalah reaksi yang wajar dan manusiawi. Tidak perlu kita menyangkalnya atau berpura-pura tidak merasa apa-apa.

Namun kekecewaan ini juga tidak perlu didramatisasi menjadi kebencian, apalagi menjadi bahan gunjingan yang mempermalukan. Sebab di sinilah kita diundang untuk belajar dari sikap Bapa Pendiri kita sendiri.

 

Sikap St. Fransiskus: Saudara Tetaplah Saudara

St. Fransiskus, ketika berhadapan dengan saudara-saudaranya yang lemah, jatuh, atau bahkan meninggalkan persaudaraan, tidak pernah menjadikan mereka musuh. Ia tidak mempermalukan mereka di hadapan umum. Sebaliknya, ia mendoakan mereka dan memberi nasihat agar tetap dapat hidup menurut semangat Injil. Bagi Fransiskus, seorang saudara yang lemah atau bahkan yang jatuh tetaplah saudara. Ikatan persaudaraan itu tidak putus hanya karena kegagalan atau kelemahan manusiawi.

Sikap ini tampak jelas dalam salah satu Nasihatnya (Admonitiones) yang paling menyentuh: "Berbahagialah orang, yang sabar menerima sesamanya dalam kelemahannya, sebagaimana ia pun ingin diterima oleh sesamanya dengan sabar, sekiranya ia sendiri berada dalam keadaan yang serupa" (Nasihat XVIII). Fransiskus paham betul bahwa setiap orang, termasuk dirinya sendiri, bisa jatuh dalam kelemahan. Karena itu ia mengajak saudara-saudaranya untuk saling menanggung, bukan saling menghakimi. Dalam nasihat lain ia bahkan berkata bahwa yang patut dibanggakan bukan pengetahuan atau kekuatan, melainkan justru kelemahan kita dan kesediaan memikul salib Tuhan setiap hari (bdk. Nasihat V).

Fransiskus tidak pernah menuntut kesempurnaan sebagai syarat kasih. Ia menuntut kejujuran hati dan kerendahan untuk terus kembali kepada Injil, betapapun jatuh berkali-kali.

 

Sikap Gereja: Pintu yang Tidak Pernah Ditutup

Sikap Gereja pun sejalan dengan semangat itu. Gereja tidak menutup pintu bagi saudara yang meninggalkan tugas imamatnya. Pintu penerimaan kembali, baik sebagai umat awam yang penuh, maupun sebagai anggota Gereja yang dikasihi, tetap terbuka. Namun Gereja juga jujur bahwa setiap pilihan hidup baru membawa konsekuensi kanoniknya sendiri. Ketika seseorang yang pernah ditahbiskan hendak menikah, ia perlu terlebih dahulu memperoleh dispensasi dari kewajiban selibatnya, sebab tahbisan meninggalkan meterai rohani yang tidak terhapuskan, meski status klerikalnya sudah dilepaskan. Proses ini, yang dikenal dengan istilah laikalisasi, memastikan bahwa langkah baru itu ditempuh secara sah, tertib, dan penuh tanggung jawab di hadapan Gereja, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai peralihan status hidup yang diakui. Gereja, dengan kata lain, tidak sedang menghukum dengan menutup pintu, tetapi sedang menjaga agar setiap langkah, sesulit apa pun, tetap ditempuh dalam terang dan kejujuran.

 

Sikap Yesus: Bapa yang Berlari Menyambut

Namun dari semua itu, gambaran yang paling menggetarkan hati tetaplah perumpamaan yang diberikan Yesus sendiri: kisah anak yang hilang (Luk. 15:11-32). Anak bungsu yang pergi jauh, menghabiskan segalanya, dan pulang dengan tangan kosong serta hati yang hancur, disambut bukan dengan interogasi atau penghakiman, melainkan dengan pelukan seorang bapa yang telah lama menanti dari kejauhan. Perumpamaan ini adalah gambaran hati Allah yang maharahim. Ia senantiasa menantikan dan menyambut kembali anak-anak-Nya yang pernah tersesat, apa pun jalan yang telah mereka tempuh. Jika Allah sendiri berhati selebar itu, siapakah kita untuk berhati lebih sempit daripada-Nya?

 

Rasa Syukur: Lebih Baik Jujur daripada Munafik

Sebagai umat beriman, kita diajar untuk saling mengampuni dan saling menerima saudara, baik dalam kelebihan maupun kekurangannya. Barangkali, alih-alih hanya berkubang dalam kekecewaan, ada ruang bagi kita untuk juga bersyukur. Sebab, bukankah lebih baik seorang saudara berterus terang tentang pergulatan hatinya, lalu dengan berani mengambil keputusan meski berat, daripada ia terus hidup dalam kepura-puraan dan kemunafikan bertahun-tahun? Barang kali baik ia hidup jujur dan bahagia sesuai jalan yang benar-benar ia yakini, daripada mengenakan jubah tanpa hati yang sungguh ada di dalamnya. Kejujuran, betapapun pahit rasanya bagi kita yang menyaksikan, tetap lebih mulia daripada kepalsuan yang dipertahankan demi menjaga citra.

 

Penutup: Berdoa dan Menerima dengan Lapang Dada

Maka, sebagai umat dan sebagai jiwa-jiwa yang ingin belajar dari semangat Fransiskan sejati, marilah kita belajar menerima keputusan saudara kita dengan lapang dada. Bukan berarti kita membenarkan segala hal tanpa syarat, sebab tetap ada jalan, proses, dan konsekuensi yang mesti ditempuh dengan tertib. Namun di atas segalanya, marilah kita belajar mendoakannya, sebagaimana Fransiskus mendoakan saudara-saudaranya yang lemah; menerimanya sebagai saudara, sebagaimana Bapa menerima anak yang hilang; dan bersyukur atas kejujuran yang telah ia perjuangkan, meski dengan harga yang tidak murah. Sebab pada akhirnya, iman bukanlah tentang siapa yang tidak pernah jatuh, melainkan tentang siapa yang, dalam kejatuhannya, tetap dirangkul oleh kasih yang tak pernah berhenti mencari jalan pulang.

Sumber: Kitab Suci, KHK, Fransiskus Asisi Karya-Karyanya, Dinamika Gerakan Religius Fransiskus Asisi dan beberapa sumber lain yang mendukung.

 

27/09/2025

Luo Migu Biasa – 18

Fombaso I      : Amosi 6:1a.4-7

Fombaso II    : 1Timoteo 6:11-16

Injil                 : Lukas 16:1931

 

Turia Somuso Dödö khö Yesu Keriso nisura Yohane.-

 

Me luo da'ö, Ilau gamaedola andre Yesu, Imane: "So samösa niha sikayo, sonukha si sökhi sibai. Ba ero ma'ökhö i'omusoi'ö manö dödönia, lö ambö'ambö hadia ia. So göi samösa zi numana, Lazaro döi, safönu gimögimö zi sageu botonia. Sito'ölönia i'iagö gahe nora niha si kayo no mege, ena'ö tola ifo'ösi dalunia faoma akhökhöla gö satoru moroi ba meza niha si kayo andrö. Ba so göi nasu, lafelafelai gigimönia andrö.

Samuza ma'ökhö, mate zi numana andrö, ba la'ohe ia ira mala'ika ba gaheta Gaberahamo. Ba mate göi niha si kayo andrö, ba lako'o ia. Itaögö sibai wa'amarase ba nahia zi mate andrö. Me ifaöga hörönia, i'ila Gaberahamo ba zaröu awö Lazaro, ba gahetania. Mu'ao niha sikayo andrö: "He amagu Aberahamo, hakhösi tödö ndra'o. Fatenge Lazaro andrö, ena'ö i'ungugö zara nuwu durunia ba nidanö, ba wangokafui lelagu. Marase sibai ndra'o ba holahola galitö andre."

Imane Aberahamo : "He onogu, törötörö tödöu, wa no ötema zi sökhi andrö, tana khöu, götö we'asomö ba gulidanö, ba no itema zi lö sökhi Lazaro. Iada'e terara dödönia ba da'e; ba ya'ugö zi marase. Baero da'ö, no so mbaho sabakha ba gotaluada, ena'ö böi möi niha moroi ba da'e numalö ba khömi, ba si otarai khömi, böi möi ba da'e." Imane niha si kayo andrö: "Na simanö, ama, u'andrö sibai khöu, ena'ö öfatenge Lazaro andrö we'amöi ba nomogu, ba zi so nasa dalima tö ndra talifusögu, ena'ö ifangelama ira, fa böi möi ira göi ba naha wa'amarase andre." Imane Aberahamo: "No so khöra mbuku Moze awö mbuku ndra sama'ele'ö; akha lafondrondrongo da'ö." Imane niha si kayo andrö: "Ai, lö'ö, amagu Aberahamo, ha na möi khöra niha si otarai zi no mate, awena lafalalini gera'erara." Imane khönia Aberahamo: "Na lö ba dödöra Moze, awö ndra sama'ele'ö, lö göi mamati ira, na so niha si maoso moroi ba zi no mate".-                                                         

 

Simanö duria somuso dödö khö Zo'aya ya'ita, Yesu Keriso.-

 

FANGOBADÖDÖI AWÖ NO BUA WAMADUHU’Ö FAMATI

Ba zi sambua banua, so samösa niha si kayo ba sowölö’ölö sibai möi ba gereja ero luo migu, sotöi Ama Warisa. Ba dödönia omasi sibai falukha ia khö Yesu, irege i’ohe ba wangifinia. Ba wangifinia, Iwa’ö khönia Yesu, wa möi Ia tomenia ba nomo mahemolu. Me giarö ia moroi ba wemörö andrö, i'anema’ö isusugi wo’omonia ba wangehao omo ba ba wondrino gö sami.

Fatutu fa’amoluo me no awai lafa’anö ira, ilau teu toho. So samösa nono sekola sanörö föna nomonia si no abasöbasö. Me i’ila da’ö Ama Warisa, ahakhö sibai dödönia irege ibe’e wayo ba sambua nukha khö nono andrö ena’ö tola möi ia sekola mangawuli. Ba dalu laluo, so göi samösa nina sedöna tetabi ba hiza lö la’ila la’ohe ba nomo zofökhö me abölö sibai deu. La’andrö tolo khö Nama Warisa wamesao faoma motonia. Sifao fa’abua gölönia börö wombalobaloi Yesu, tomenia, i’alio’ö wamesao. Hiza me mangawuli ia, so samösa ndra’alawe nifofanö namania, me no mohorö ia. I’andrö ena’ö tola toröi ia ba nomo nama Warisa gasagasa wombase’ö ono matua sohoröni ya’ia andrö wamaondragö ya’ia.

Me arakhagö aekhu luo, ibörögö afatö dödö Nama Warisa me lö manö tohare Yesu, tomenia. Andrö tehasu ia ba gurusi, alau hörönia, ba mangifi ia. Ba wangifinia andrö falukha ia khö Yesu ba ilua’ö wa’afatö dödönia; “He tua, ma’öma’ökhö ubaloi’Ö ba lö manö so’Ö”. Itema linia Yesu; “Alai ndra’o ndra’ugö le. No medölu ötema’ö ndra’o ma’ökhö”. Tokea Nama Warisa, ba omuso dödönia.

Salua khö Nama Warisa andre, no möi famokai dödöda ba wo’erönusi Taroma li Lowalangi nifarongogö ba luo migu si 26 andre, ena’ö satuatua ba wangoguna’ö harato gulidanö andrö. Harato andrö göi moguna ba lala wa’auri niha, me da’ö göi zanundreheni lala wangalui ba lala wa’auri. Hiza i, ena’ö siföfönania, harato andrö tobali dela ba wamolakhömi Lowalangi ba ba wangobadödöi awö.

Bakha ba duria somuso dödö andrö oroma sibai hadia mbörö wa’itaögö wa’amarase ba galitö andrö niha sikayo, ba te’ohe göi ba gaheta Gaberahamo, Lazaro andrö. Alaua da’ö ba niha sikayo, börö me so nasa ia ba gulidanö, lö i’oguna’ö gokhötania andrö ba wangobadödöi awö ya’ia Lazaro andrö. No ihalö sahono dödönia gokhöta andrö, irege lö sa’ae tödönia ba niha sangandrö tolo. Ba gafuriata, alai niha simanö iwa’ö Amosi sama’ele’ö (fahela ba wombaso si sara).

Ena’ö tola atuatua ba wangoguna’ö okhöta gulidanö andrö, moguna so wamati saro ba khö Keriso. Menemene waulo andrö khö Dimoteo (fahela ba wombaso si dua) moguna ta’okhögö; “Aröu’ö fefu zi lö sökhi, gohi wa’atulö, fa’alöfaröi, famati, fa’omasi, fa’ebolo dödö ba fa’asökhi dödö”. Ba zimanö oroma niha samati andrö; tenga ha me no so ia ba gotalua nono wobanua, ba hiza oroma göi ia wa no ono Lowalangi, sangoroma’ö bua wamatinia khö Yesu Keriso. Amen.

20/03/2025

Pendahuluan:

Orang Muda Katolik atau yang akrap disapa OMK, merupakan salah satu bagian dari kelompok kategorial dalam Gereja Paroki atau Stasi . Sebagai bagian dari Paroki dan Stasi, OMK senantiasa menjadi bagian dari hidupnya Paroki atau Stasi. Dengan ini, tidak salah jika OMK sering sekali dikatakan menjadi semboyan bahwa OMK adalah “Bunga dan Kekuatan Gereja”. Lebih lanjutnya, di era baru ini, OMK dikatakan menjadi “wajah Gereja yang sekarang dan yang akan datang”. Kata-kata ini sungguh mendarat jika dicermati dengan bijak bahwa hidup Gereja itu kedepan terletak di tangan OMK yang ada saat ini. Jika mereka banyak (secara kuantitatif) dan mau berkarya (secara kualitatif), maka wajah Gereja yang akan datang semakin besar dan berkualitas. 

Tidak terkecuali, OMK Rayon St. Yosef Dola, Paroki Kristus Gembala Baik Hiliserangkai, mereka adalah bagian dari OMK yang dimaksudkan itu. Dalam berbagai kesibukan mereka yang lebih banyaknya masih duduk di bangku sekolah menengah dan atas, juga ditemani oleh Orang Muda yang juga sebagian sudah dan sedang dalam dunia kerja. Sebagai wajah Gereja yang saat ini dan masa yang akan datang, mereka juga mengisinya dengan berbagai kegiatan yang membangun iman dan kesatuan dengan umat pada umumnya.


Foto Bersama Setelah Konsolidasi
Sumber: Dok. Pribadi.

Berjalan Bersama dalam Konsolidasi:

Di awal tahun 2025, OMK St. Yosef Dola kembali merintis kegiatan yang telah lama terhenti karena satu dan dua alasan. Tentu sebagai gerakan awal, bagai orang yang baru bagun, masih terseok-seok sana sini. Untuk itu, mereka memilih untuk mulai bergerak dan membutuhkan pendampingan. Mereka memutuskan untuk memulai konsolidasi kepengurusan se-rayon pada minggu prapaskah pertama.  Saat ini hendak merencanakan paskah bersama OMK se-rayon. 

Berkaca pada seruan Paus Fransiskus bahwa tahun 2025 ini menjadi Tahun Yobel, OMK juga ikut bersama dalam peziarahan itu. Mereka ingin menjadikan OMK ini sebagai bagian dari peziarahan hidup mereka dalam pengharapan. Sebagaimana mereka yang baru bagun dari keterpurukan, mereka masih menaruh harapan bahwa mereka bisa menjadi wajah Gereja di Rayon St. Yosef yang saat ini dan di masa yang akan datang. Langah ini menjadi bagian dari pembangunan mereka akan perjalanan bersama OMK seluruhnya di Rayon St. Yosef Dola.

Berjalan Bersama dalam Pengharapan Paskah:

Pasca rapat perdana Panitia Perayaan Paskah OMK Rayon St. Yosef Dola, mereka mencari Tema Paskah. Tema ini diharapkan tidak jauh dari pengalaman rohani yang telah dialami. Untuk itu saya mengajak mereka merenungkannya lewat pesan Paus Fransiskus pada masa Prapaskah.  Dalam pesan tersebut ada tiga hal yang sangat perlu: 1) Berjalan dalam Peziarahan Pengharapan; 2) Berjalan Bersama atau Bersinodalitas; dan 3) Ajakan untuk berjalan bersama. Ketiga pesan ini terarah pada panggilan setiap umat tidak terkecuali juga OMK untuk senantiasa berharap, karena pengharapan tidak pernah mengecewakan.

Ketiga isi pesan Paus Fransiskus ini, jika dicermati, sudah dan sedang dijalani oleh OMK St. Yosef Dola. Untuk itu sangat baik jika tema ini dilihat dalam kacamata paskah bahwa kebangkitan Kristus itu menjadi suatu ajakan untuk tetap berjalan bersama dalam pengharapan. Maka sangat tepat untuk mengangkat Tema: “Marilah Kita Berjalan Bersama dalam Pengharapan” (bdk. Roma 5:5). Dengan tema ini diharapkan bahwa OMK St. Yosef Dola semakin memantapkan langkah dalam pengharapan untuk semakin berakar dalam iman kekatolikan, bertumbuh dalam semangat komunitas, dan pada akhirnya semakin berbuah dalam kesaksian hidup.

Penutup:

Berjalan bersama dalam pengharapan menjadi bagian hidup setiap umat Katolik pada khususnya di tahun Yobel 2025. Bukan hanya karena telah ditetapkan Paus Fransiskus, melainkan hendaknya muncul dari kesadaran bahwa kasih Allah itu telah kita terima dan kini kita diminta untuk semakin teguh dalam pengharapan itu, sembari membuat sesuatu jika memungkinkan. OMK St. Yosef Dola yang adalah bagian di dalamnya, sungguh menunjukkan hal itu dalam keluarga OMK. Semoga harapan akan niat baik ini senantiasa dirahmati oleh Allah.

Lubuk Harapan, 21 Maret 2025

Kat. Ingatan Sihura, S.Ag.

11/02/2025


To’ese ngaluo tedou mbongi

To’ese  ikhamöi zidöfi

Simanö gofanöwa wa’auri

Te’erönusi ia ero röfi

 

To’ese ndröfi niha ba wa’auri

Tedou mboto, ahuwa högö afusi

Tedou göi dötönafö sisökhi

Me da’ö ia lala wa’auri ni’osisi

 

Ha fangandrö saohagölö khö Lowalangi

Inötö ni’amualagöNia sagötö zidöfi

Ha fangandrö saohagölö khö ndra talifusö sanundreheni

Samobawalala same’e menemene si sokhi






10/01/2025

Liturgi Taroma Li Döfi A/B/C, hlm. 487.

FOMBASO  I

Taroma Li Lowalangi nihalö moroi ba zura Yesaya, sama'ele'ö.-

Imane Lowalangi So'aya: Hiza genoniGu andrö, ni'a'aro'öGu, nituyuGu, ni'omasi'öGu. KhöNia no Ube GehehaGu, ena'ö I'ohe huku ba soi niha fefu. Tenga si'ao'ao Ia, tenga sebua li. Lö Ifarongogö liNia ba newali. Sukhu si no mufatö'ö, lö alua Ifatö. Fandru sanimbonimbo, lö Ibunu. Sindruhu lala Itörö wangombakha huku. Lö erege dödöNia, ba lö atage Ia, irege no Ifodanedane huku ba gulidanö ma'asagörö. Ladönadöna goroisaNia andrö niha si so ba hulo misa.-

Ya'odo, So'aya, zi no mogaoni ya'ugö, tobali enoniGu, satulö lala Utörö. U'ohe dangau ba Urorogö Ndra'ugö. Ube'e fawu'usa li ba soiGu Ndra'ugö ba Ubali'ögö haga soi niha: Ba wamokai hörö niha sau'a, ba wangefa'ö ba gurunga niha nikuru, ba wolohe baero nikuru ba zogömigömi. Ya'o Yahwe – Si So andre, da'ö döiGu.- Yes 42:1-4.6-8a

Simanö daroma li Lowalangi.-

 

Sinunö Fanema Li : Psallite No 29                         (ma Laudate No 37 ma 97)

 

FOMBASO  II

Taroma Li Lowalangi nihalö moroi ba zura Waulo khö Dito.-

Talifusö ni'omasi'ö!

No to'ele wa'asökhi dödö Lowalangi, sangorifi ya'ita, awö wa'omasiNia niha. I'orifi ita sa, tenga börö me no talau zambalö si sökhi, ba hiza, moroi khöNia samösa wangomasi'öNia ya'ita. Ya'ia zangorifi ya'ita bakha ba wanasa ni'amoni'ö ba samohouni ya'ita ba wa'abölö Geheha Ni'amoni'ö. Eheha andrö zamatumbu'ö ya'ita mangawuli ba same'e fa'auri si bohou. Lowalangi zangöhöna EhehaNia khöda nifa'ema Yesu Keriso, sangorifi ya'ita, ena'ö börö kharasiNia, amakhaitada khö Lowalangi tobali sökhi mangawuli, ba ena'ö tatema wa'auri si lö aetu, si no tadönadöna.- Tito 3:4-7

Simanö daroma li Lowalangi.-

 

Sinunö Föna Injil : Psallite No 218                                 (ma Laudate No 104)

 

INJIL

Turia Somuso Dödö khö Yesu Keriso nisura Luka.-

Me luo da'ö, ibörögö manofunofu dödö niha sato, hadia Yohane Mesia andrö nibalobaloira. Da'ö mbörö, wa imane khöra fefu Yohane: "Faoma idanö ube'e khömi wanasa. So dania Zabölö ebua moroi khögu. Lö sinangea ndra'o wanoto'ö böbö mbadagaheNia. Faoma Eheha Ni'amoni'ö ba faoma alitö (wanguhuku) Ibe'e khömi wanasa dania". Me latema wanasa niha sato, fao göi Yesu ba wanema fanasa. Me no aefa da'ö, ba me mangandrö Ia, ba teboka mbanua si yaŵa, ba möi mitou khöNia Geheha Ni'amoni'ö moboto wamaigira, hulö marafadi. Terongo li moroi ba mbanua si yaŵa sanguma'ö: "OnoGu Ndra'ugö, Ono ni'omasi'öGu, nituyuGu andrö." Luk 3:15-16.21-22

Simanö duria somuso dödö khö Zo'aya ya'ita, Yesu Keriso.-

 

FA’OMASI : BUA WANASA NI’AMONI’Ö

Taroma Li Lowalangi nirongoda ba wombaso si sara andre nihalö moroi ba zura Yesaya sama’ele’ö, no sambua fama’ele’ö sanandrösa khö Yesu. Fama’ele’ö andrö, no ngaotu fakhe föna we’aso Yesu. No ifokhalakhla Ia andrö si no Enoni Lowalangi, si no tebayoini Eheha Lowalangi, ba fondrege ni’omasi’ö Lowalangi. HalöŵöNia, ya’ia ba wolohe huku satulö, ba wanuwuni niha si lö fa’abölö, ba tobali haga ba soi ma’afefu, ba samasao ya’ita, ena’ö aheta ita moroi ba wangosawuyu ba moroi ba mböbö samesu fa’auri si lö enahöi.

Ba wombaso si dua nihalö moroi ba zura Waulo andrö khö Dito, i'ombakha’ö khöda sambua dumaduma nifalua Yesu ba wanema fanasa ni’amoni’ö. Yesu Keriso, enoni Lowalangi andrö, no Itema wanasa wamalalini era’era, ena’ö tesasai ita ba nidanö fanasa ba ba Geheha Ni’amoni’ö andrö. Ba da’e tatema mbua wanasa andrö 1). Sangeheta ya’ita moroi ba horö ondröita, 2). Sanou ya’ita tobali sanema ondröita andrö khö Nama, ba 3). Tebali’ö ita tobali ndrotondroto gerejania ni’amoni’ö. Aandrö akha auri ita simane niha si bohou ba simane niha ni’amoni’ö.

Bakha ba Duria Somuso Dödö andrö tarongo hewisa ia dötönafö niha andrö khö Yohane. Ba hiza ifaduhu’ö wa tenga ya’ia. Yesu sa si no I’olohuni Eheha Ni’amoni’ö andrö Ia. Me föna muhede Geheha Ni’amoni’ö si fao fama’ema ndra sama’ele’ö. Ba hiza, I’otarai me no Itema wanasa Yesu ba nidanö Yoridano, muhede Geheha Ni’amoni’ö andrö si fao fama’ema Yesu Keriso, Ono Lowalangi ni’omasi’ö. Me so Ia ba wangandrö Itema Geheha Lowalangi Yesu. No ifabu’u khöda Yesu: Na moroi ba dödö mangandrö ita khö Nama, ba Ibe’e khöda GehehaNia göi.

Fefu wombaso nirongoda andre, edöna idönia’ö ita ba wamati wa no itema wanasa Yesu andrö ba so khöNia Geheha Ni’amoni’ö sanolo ya’ia wamodanedane huku ba gulidanö, ya’ia wa’omasi. Khöda göi te’anofuli, hadia göi zi so khöda me no tatema wanasa sihasambua andrö? Hadia ha asala no tatema zitölu ngawua mbua wanasa ni’amoni’ö andrö? Tatu tenga ha asala tatema. Ena’ö mowua zi no tatema, moguna tabagisi ia. Fombagisida mbua wanasa ni;amoni’ö nitemada andrö, ya’ia wamaluada buabua wa’omasi andrö si no ibörögö Yesu. Ya’itolo ita Lowalangi. Amen.

Nifa’anö Kat. Ingatan Sihura, S.Ag.

Umbu:

Biro Liturgi Keuskupan Sibolga, Liturgi Taroma Li Döfi A/B/C Buku Bacaan Untuk Upacara Hari Minggu dan Hari Raya dalam Bahasa Nias, Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga, 2012

Dianne Bergant, CSA & Robert J. Karris, OFM (ed) Tafsir Alkitab Perjanjian Lama Yogyakarta Kanisius, 2002

Dianne Bergant, CSA & Robert J. Karris, OFM (ed) Tafsir Alkitab Perjanjian Baru Yogyakarta Kanisius, 2002

Martin Harun, OFM, Lukas Injil Kaum Marginal Yogyakarta: Kanisius, 2019

St. Eko Riyadi, Pr, Lukas “Sungguh, Orang ini adalah Orang Benar!” Yogyakarta: Kanisius, 2011

.

06/09/2024

MEMBANGUN IMAN UMAT KATOLIK DEKANAT NIAS 

DENGAN MEMAKSIMALKAN KATEKESE DIGITAL

INGATAN SIHURA

Staf Tri Biro (Kitab Suci – Liturgi – Kateketik) Keuskupan Sibolga

ingatansihura@gmail.com

Jurnal ini sudah dipublish di jurnal prosiding internasional Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Dian Mandala Gunungsitoli, Keuskupan Sibolga dalam bahasa Inggris.


Abstrak

Perkembangan teknologi digital telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk di dalam Gereja Katolik. Gereja melihat bahwa sudah waktunya dan harus berani untuk beradaptasi dengan media digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas katekese digital dalam membangun iman umat Katolik di Dekanat Nias, Keuskupan Sibolga. Menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, data dikumpulkan dari 50 informan yang terdiri dari katekis dan tenaga pengajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media digital di Dekanat Nias cukup tinggi, tetapi pelaksanaan katekese digital masih rendah. Meskipun tantangan seperti jaringan internet yang tidak stabil dan kurangnya keterampilan digital ada, terdapat peluang besar untuk memaksimalkan penggunaan media digital sebagai sarana pengajaran iman. Oleh karena itu, Gereja perlu memberikan pelatihan dan dukungan dalam penggunaan media digital untuk meningkatkan efektivitas katekese di kalangan umat.

Kata Kunci:

Dekanat Nias, iman umat Katolik, katekese digital, media digital, penelitian kualitatif.


Ilustrasi Katekese Digital [Sumber Foto: Desain Pribadi]

1.      Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini semakin meningkat pesat. Berbagai usaha dilakukan oleh para peneliti dan ilmuwan, untuk menemukan hal-hal yang baru dan dikreasikan sedemikian rupa. Semua usaha ini dilakukan untuk menunjang usaha atau untuk mempermudah pekerjaan manusia. Salah satu bentuk yang semakin berkembang adalah proses digitalisasi. Proses digitalisasi ini semuanya bermuara kepada alat dan media yang digunakan oleh manusia yang semakin simpel dan bisa diakses dimana saja. Hingga sampai saat ini, perkembangan ini ditandai dengan sebutan “era digital” (A., 2023, hlm. 4).

Perjalanan era digital ini semakin dirasakan telah merasuki seluruh aspek kehidupan manusia yang ada di dalamnya. Manusia sudah mulai memiliki ketergantungan satu dengan yang lain. Proses interaksi dan komunikasi lebih diminati lewat digital saja karena prosesnya yang hic et nunch dan yang jauh menjadi dekat (Kotan, 2020, hlm. 87). Selain mudah dan cepat, orang juga bisa mengulangi isi dari komunikasi tersebut di tempat dan situasi yang lain. Pada ujungnya, perkembangan digital merubah budaya perjumpaan jarak jauh menjadi dekat, dan dan melahirkan generasi yang sering disebut Generasi Net atau Generasi Z (Sugiyono, Sugiyana, Adhi, & Kotan, 2015, hlm. 23).  

Tidak terkecuali, Gereja Katolik yang merupakan bagian dari perkembangan ini juga turut merasakan adanya perubahan itu sendiri. Dengan prinsip “Ecclesia Semper Reformanda Est” Gereja berusaha untuk tetap menyesuaikan diri kepada perkembangan yang ada, walaupun ada hal-hal tertentu yang harus dipertahankan keasliannya. Dari situasi ini Stephen Bevans, SVD lebih menekankan adanya evangelisasi baru, yang berusaha untuk menemukan berbagai bentuk pendekatan (metode dan ungkapan) Gereja yang bersaing dengan perubahan sosial dan budaya umatnya (Tauchner, 2015, hlm. 63).

Gereja kemudian melihat bahwa perkembangan media digital yang ada sudah sepantasnya disyukuri sebagai suatu rahmat yang membantu Gereja dalam menjalankan misi pewartaannya (Sugiyono et al., 2015, hlm. 38). Rufino J. Cardinal Santos semakin menekankan bahwa kehadiran media digital merupakan sarana yang mengantar Gereja kepada dunia dan sebaliknya (Samosir, 2019, hlm. 77). Pandangan ini serasa mewakili apa yang telah digaungkan dalam Konsili Vatikan kedua khususnya yang tertera dalam dokumen Inter Mirifica khususnya nomor 1 yang memberi penekanan kepada kehidupan manusia dan penyebaran Injil (Hardawiryana, 1993, no. 1).

Selain memiliki dampak positif, kehadiran media digital ini juga memiliki sisi negatifnya. Ibarat pisau bermata dua, media digital ini juga menjadikan orang yang dekat menjadi jauh, info yang semula hanya konsumsi pribadi bisa menjadi konsumsi publik, munculnya hoax dan pada akhirnya perjumpaan badaniah menjadi perjumpaan virtual (Samosir, 2019, hlm. 75). Oleh karenanya, penyebaran informasi di media digital sudah menjadi tanggung jawab bersama dengan penuh adap dan etika, serta proses yang selektif untuk mengolah setiap informasi yang ada. Tanggung jawab bersama inilah yang kemudian menjadi penegasan Wilfridus F. S. menutup tulisannya perihal etika digitalisasi (Sarah, 2024, hlm. 180).

Gambaran di atas sungguh disadari juga oleh Gereja. Untuk itu, Paus Yohanes Paulus II mendorong seluruh lapisan Gereja untuk tidak takut menggunakan media digital. Dalam surat apostoliknya, Paus Yohanes Paulus II bahkan menyebut media itu sebagai “Aeropagus Pertama Abad Modern”(Paus Yohanes Paulus II, 2005, no. 3). Kesadaran Gereja Akan sisi lain dari kehadiran media digital, mendorongnya untuk memberi petunjuk penggunaan media digital ini dengan baik dan benar sesuai dengan tujuan pewartaan. Penggunaan media digital hanyalah sebagai alat bantu dan diharapkan untuk tetap mempertahankan proses persekutuan perjumpaan badaniah (Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru, 2020, no. 372).

Dekanat Nias yang merupakan bagian dari Keuskupan Sibolga, hingga saat ini terus mengembangkan pewartaannya. Salah satu media yang bisa dimaksimalkan adalah media digital. Meskipun merupakan salah satu pulau terluar yang terpisah dari dataran Sumatera, pulau Nias sudah hampir keseluruhan dijangkau oleh jaringan telekomunikasi. Selain itu, kepemilikan akan alat komunikasi berbasis digital, hampir setiap rumah ada. Untuk inilah, penulis ingin mengetahui sejauh mana efektivitas katekese digital jika ingin dipakai di Dekanat Nias? Tentunya, efektivitas ini bisa tergambar dari hasil yang telah ada sekarang, yakni sejauh mana telah dilaksanakan, serta kendala apa yang dihadapi dari semuanya itu?

Hal lain yang menjadi target penelitian ini kemudian adalah Keuskupan Sibolga yang sedang menyusun strategi Sinode III. Keuskupan Sibolga dalam dua kali sinode, masih mencari metode pewartaannya yang cocok untuk situasi setempat. Dalam evaluasi sinode II, akhirnya Keuskupan Sibolga menyebut dirinya sebagai “Gereja  Perjuangan” (Hasulie, 2017, hlm. 3-6). Maka tidak Salah jika satu bentuk dan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencoba menawarkan model katekese digital ini dalam sinode III Keuskupan Sibolga.

 

2.      MetodE

Dalam menyukseskan penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Metode ini digunakan penulis untuk mengungkapkan apa adanya data yang ditemukan. Hal ini sebagaimana dimaksudkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilaksanakan dengan mengumpulkan data, kemudian melakukan analisis terhadap data yang ada, kemudian menginterpretasikannya dan menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri (Anggito & Setiawan, 2018, hlm. 9).

Prosesnya sendiri meliputi pengumpulan data melalui G-form. G-form digunakan sekaligus menjadi bagian dari strategi penulis untuk mengetahui bagaimana para respon mengerti penggunaan media digital itu juga. Kemudian data yang terkumpul diinterpretasikan dengan cara membandingkannya dengan pandangan atau rekomendasi dari para peneliti terdahulu. Hasil itu kemudian ditarikkan benang merah dan kemudian menuliskannya sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian ini.

Untuk informan penelitian ini, penulis mencoba mengambil sampel yakni para katekis paroki di seluruh paroki yang ada di dekanat Nias. Dari 19 Paroki yang berada di dekanat Nias, para katekis yang menjadi informan berjumlah 35 orang. Selain para katekis, penulis juga melibatkan perwakilan imam, para tenaga pengajar, dosen yang membina para katekis yang keseluruhannya berjumlah 15 orang. Jadi, total dari informan penelitian ini adalah 50 orang.

 

3.      HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah mengumpulkan data penelitian, secercah harapan kemudian muncul karena hal yang telah digambarkan di bagian pendahuluan mulai tampak. Data tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

3.1.       Penggunaan Media Digital.

Serasa ingin mengonfirmasi keberadaan media digital di Dekanat Nias, penulis memulai dengan melihat tingkat penggunaan media digital. Dari hasil penelitian, ternyata penggunaan atau akses media digital di Dekanat Nias cukup tinggi. Sebesar 66 % menyatakan selalu menggunakan, 30 % sering menggunakan, hanya 4 % saja yang kadang-kadang dan 0 % yang tidak pernah menggunakan media digital. Angka ini menunjukkan bahwa penggunaan media digital di Dekanat Nias, sudah menjadi kebiasaan orang.

Data di atas semakin menunjukkan bahwa wilayah Dekanat Nias sudah mulai dikatakan daerah digital. Hal ini semakin mengonfirmasi permintaan peningkatan layanan internet di kepulauan Nias, kepada Anggota Ombudsman RI, Jemsly Hutabarat, saat inspeksinya di Kabupaten Nias (Perwakilan Sumatera Utara, 2022). Dengan ini, langkah awal untuk penggunaan media digital sebagai sarana untuk katekese di Dekanat Nias, sudah mulai terbuka.

Dengan angka penggunaan media digital yang cukup tinggi, tentunya, ini diikuti dengan interaksi. Orang yang menggunakan media digital, juga bertindak sebagai pelaku interaksinya. Sebesar 54 % selalu berinteraksi, 36 % sering berinteraksi, 10 % yang kadang-kadang berinteraksi dan 0 % yang tidak pernah berinteraksi. Data ini cukup membuktikan penggunaan media digital itu sendiri cukup tinggi.

Dari data ini sudah bisa dipastikan bahwa interaksi di media digital sungguh menjadi sebuah budaya zaman now. Budaya ini menjadikan dunia hanya dalam genggaman. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat bahwa orang Indonesia bisa bertahan sampai 9 jam di depan media digital, dan ini menduduki posisi ke 5 di dunia. Indikator ini yang kemudian menjadikan tingkat interaksi di media digital semakin meningkat (Devega, 2017).

Tingginya angka interaksi di media digital ini, sungguh menjadi peluang sekaligus tantangan. Menjadi peluang, karena orang mampu untuk mengakses serta bisa memberikan umpan balik jika ada katekese. Namun menjadi tantangan, karena bisa jadi orang dengan sudut pandangnya yang berbeda-beda, juga dengan leluasa berkomentar semaunya, dan pada akhirnya menjadi lari dari pembahasan.

 

3.2.       Penggunaan Buku dalam Penyusunan Bahan Katekese Digital.

Berbicara soal penggunaan buku sebagai bahan dasar penyusunan bahan katekese digital tentu sangat diharapkan. Namun dengan media digital yang menawarkan hal yang instan tentu menjadi godaan tersendiri untuk tidak lagi menggunakan buku-buku yang tentunya sudah terjadi karena adanya nihil obstat dan imprimatur atas ajaran yang ada dalam buku tersebut. Sebesar 36 % selalu menggunakan, 32 % sering menggunakan, 30 % kadang-kadang dan 2 % tidak pernah lagi menggunakan buku.

Angka di atas masih sangat relatif baik jika dibandingkan dengan tingkat literasi yang masih ada di daerah Sumatera Utara yang di tahun 2022 masih di angka 51,69 % (Tambusay & Harefa, 2023). Walaupun demikian kesamaan angka (selalu, sering dan kadang-kadang) yang menggunakan buku mulai meresahkan juga. Apa lagi dengan mulai munculnya angka yang tidak lagi menggunakan buku dalam menyusun bahan katekese. Kemunculan angka ini bisa jadi menjadi tanda mulainya kehati-hatian akan ajaran yang dibagikan di media digital bisa “sesat pikir” atau melenceng.

Ketimbang membaca buku yang lama untuk menemukan bahan yang ingin dicari, lebih baik langsung searching di media digital. Pencarian bahan katekese dengan google lebih mendekati cepat dan selalu mendekati dengan hal yang diinginkan. Kecenderungan ini tampak juga dari data yang didapat. Sebanyak 24 % selalu akses, 46 % sering akses, 28 % kadang-kadang akses, dan 2 % yang tidak pernah akses.

Data di atas sungguh mendekati sama dengan penggunaan buku. Pelaku katekese saat ini mulai ada peralihan dari buku ke media. Buku terkesan lambat dan membosankan, sementara dengan media hanya dalam waktu detik saja bisa didapatkan apa yang diinginkan. Hal ini didukung dengan bagian yang pertama soal penggunaan media digital yang semakin meningkat.

 

3.3.       Pelaksanaan Katekese Digital.

Setelah melihat pelaksanaan katekese digital, diketahui bahwa sebesar 2 % yang selalu melaksanakan katekese, 20 % sering melaksanakan katekese, 62 % kadang-kadang melaksanakan katekese dan 16 % tidak pernah melaksanakan katekese. Dari data ini tampak bahwa saat ini, pelaksanaan katekese digital saat ini ternyata masih jauh dari harapan. orang hanya lebih mengedepankan aksidental saja atau spontan.

Data ini sekaligus mengonfirmasi bahwa daerah kepulauan Nias yang baru saja mulai memasuki era digitalisasi. Perkembangan internet yang baru mulai menyebar luas di sekitaran satu dekade terakhir (Fatimah, 2016). Oleh karenanya, pengguna media digital hanya mampu untuk mengikuti atau menikmati apa yang tampil saja. Hal ini juga mengonfirmasi bahwa para pelaku katekese digital baru saja mulai belajar untuk melaksanakan kegiatan katekese.

Hal ini seiring dengan tanggapan atas pelaksanaan katekese digital tersebut. Dari data tampak bahwa sebesar 8 % yang selalu memberi tanggapan, 22 % yang sering memberi tanggapan, 54 % yang kadang-kadang memberi tanggapan dan 16 % yang tidak pernah memberi tanggapan. Data ini semakin menunjukkan bahwa orang hanya melihat katekese itu serasa melihat postingan lain. Pengguna sering sekali terbawa arus hanya untuk yang viral-viral saja (Devega, 2017).

 

3.4.       Sarana yang digunakan dalam Katekese Digital.

Pelaksanaan katekese digital, saat ini di Dekanat Nias baru menggunakan beberapa platform media sosial saja. Sebesar 40 % menggunakan halaman facebook, 40 % menggunakan WhatsApp, 8 % menggunakan Youtube, 6 % menggunakan Website, 4 % menggunakan tiktok dan 2 % menggunakan SnackVideo. Halaman facebook dan WhatsApp menjadi media yang dominan digunakan. Penggunaan media ini menjadi sangat mencolok karena lewat Facebook saat ini, orang lebih menghendaki adanya income atau bayaran. Hal ini terdorong karena munculnya FB pro, yang memungkinkan setiap orang dapat menerima imbalan dari postingannya jika memenuhi syarat yang telah ditentukan (SLT, 2024). Selain itu, penggunaan WhatsApp memungkinkan dengan cepat pengiriman pesan kepada orang yang dikenal, dan juga bisa dibatasi.

Penggunaan media ini didukung oleh sasaran dari katekese digital itu sendiri. Dari data tampak bahwa, sebesar 22 % saran orang tua, 76 % sasaran kaum muda dan 2 % sasaran anak-anak. Data ini menunjukkan bahwa saat ini, kaum muda menguasai media digital. Orang tua yang kebanyakan gagap teknologi, membuat mereka dihindari untuk menjadi sasaran katekese digital. Orang tua kebanyakan suka katekese tatap muka atau sering diistilahkan “luring” (luar jaringan).

 

3.5.       Tantangan dan peluang Katekese Digital.

Tantangan utama saat ini jika melaksanakan katekese digital adalah masalah jaringan dan akses internet. Meskipun jaringan sudah hampir mencapai pelosok, namun stabilitasnya masih belum cukup. Belum lagi akses internetnya yang sering dikatakan “lola” (loding lambat). Hal ini dikatakan oleh 70 % informan. Sementara 30 % lainnya menginformasikan kurangnya pemahaman dan keterampilan digital. Hal ini berpengaruh sangat terhadap konten katekese digital yang mau disampaikan.

Walaupun kondisi jaring yang merata dikeluhkan, tentunya bukan menjadi alasan yang tetap dan terus menerus. Akses akan dunia digital sebagaimana diungkap di bagian pertama pembahasan ini, sungguh menjadi peluang yang harus dimaksimalkan. Pemerintah sendiri secara terus menerus memperjuangkan peningkatan akan akses internet tersebut. Peluang lain yang harus dimaksimalkan adalah dapur katekese yang adalah Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala, harus menjadi titik api dan saran pelatihan untuk kegiatan pembekalan katekese digital.

 

4.      KESIMPULAN

Membangun iman umat merupakan suatu usaha Gereja dalam meningkatkan keyakinan serta kesadaran umat dalam beriman. Usaha Gereja dalam memaksimalkan semua elemen yang ada tentu menjadi salah satu strategi. Media digital menjadi salah satu sarana yang menjanjikan, serta menjadi sarana strategis dan relevan untuk zaman ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat penggunaan media digital di Dekanat Nias sungguh sangat tinggi. Meskipun masih mendapat tantangan, terutama di bidang jaringan dan akses, itu tidak menjadi masalah karena pemerintah saat ini terus berusaha meningkatkannya. Untuk itu, persiapan para katekis untuk terampil dalam melaksanakan katekese digital sungguh diutamakan. Orang muda yang menjadi pemegang kendali media digital saat ini, pasti mereka jugalah yang akan berinteraksi ke depan. Dengan demikian, pembangunan iman umat di Dekanat Nias di masa yang akan datang, sudah efektif dilaksanakan melalui katekese digital.

 

SUMBER BACAAN

A., T. A. P. N. (Ed.). (2023). Beriman Tangguh dan Solider Katekese Membina Murid-murid Misioner. Yogyakarta: Kanisius.

Anggito, A., & Setiawan, J. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jawa Barat: CV Jejak.

Devega, E. (2017). Teknologi Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet di Medsos. Diambil dari 8 Agustus 2024, dari https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media

Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru. (2020). Petunjuk Untuk Katekese (Direttorio per la Catechesi) (S. Sande, Penerj.). Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

Fatimah, Y. (2016). Layanan 4G LTE Telkomsel Hadir Pertama di Pulau Nias. Diambil dari 13 Agustus 2024, dari https://www.halloriau.com/read-ekonomi-83335-2016-08-17-layanan-4g-lte-telkomsel-hadir-pertama-di-pulau-nias.html

Hardawiryana, R. (Penerjemah). (1993). Dekrit tentang Upaya-upaya Komunikasi Sosial (Inter Mirifica). Dalam Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI-Obor.

Hasulie, H. T. (Ed.). (2017). Gereja Mandiri, Solider dan Membebaskan. Maumere: Ledalero.

Kotan, D. B. (Ed.). (2020). Katekese Keluarga di Era Digital Hasil Pertemuan Kateketik Antar-Keuskupan Se-Indonesia XI. Yogyakarta: Kanisius.

Paus Yohanes Paulus II. (2005). Surat Apostolik Perkembangan Cepat (F. X. Adisusanto, Penerj.). Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

Perwakilan Sumatera Utara. (2022). Ombudsman RI Pantau Aksesibilitas Internet di Wilayah 3 T. Diambil dari 8 Agustus 2024, dari https://ombudsman.go.id/perwakilan/news/r/pwkmedia--ombudsman-ri-pantau-aksesibilitas-internet-di-wilayah-3-t

Samosir, L. (Ed.). (2019). Gereja Yang Adalah Ragi Peta Eklesiologi Menurut Dokumen KWI Seri 2. Jakarta: Obor.

Sarah, W. V. (2024). Towards a Just Digital Society: Shared Responsibility According to the Catholic Church. Dalam Synergy of Catholic Ethics and AI in the Modern Technological Landscape. International Book Chapter: Stipas Publisher.

SLT. (2024). Cara Mengaktifkan FB Pro Agar Dapat Uang dari Konten. Diambil dari 13 Agustus 2024, dari https://kumparan.com/how-to-tekno/cara-mengaktifkan-fb-pro-agar-dapat-uang-dari-konten-22GVPkMTk6s

Sugiyono, L., Sugiyana, F., Adhi, T. A. P. N., & Kotan, D. B. (2015). Hidup di Era Digital. Yogyakarta: Kanisius.

Tambusay, M. D. E., & Harefa, W. N. R. (2023). “Manca” untuk Literasi yang Menyenangkan. Diambil dari 8 Agustus 2024, dari https://balaibahasasumut.kemdikbud.go.id/2023/09/07/manca-untuk-literasi-yang-menyenangkan/

Tauchner, C. (Ed.). (2015). Evangelisasi: Gereja Yang Bergerak Keluar Dengan Sukacita. Maumere: Ledalero.