Just another free Blogger theme

Website ini memuat Tulisan, Refleksi, Katekese, dan Renungan dari Katekis Ingatan Sihura. Website ini kemudian merupakan bagian dari memaksimalkan media yang ada menjadi sarana pewartaan. Semoga bermanfaat. Ya'ahowu!
Tampilkan postingan dengan label Katekese. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Katekese. Tampilkan semua postingan

08/08/2025

PENGANGKATAN KE SURGA: SEBUAH HARAPAN BAGI KITA SEMUA

Hari ini Gereja merayakan salah satu hari raya terpenting yang didedikasikan untuk Perawan Maria yang Terberkati: Hari Raya Maria Diangkat ke Surga. Pada akhir hidupnya di dunia, Bunda Kristus naik ke Surga dalam tubuh dan jiwa ke Surga, yaitu ke dalam kemuliaan hidup kekal, dalam persekutuan penuh dengan Allah.

Injil hari ini (Lukas 1:39-56) menyajikan kepada kita kisah Maria yang, segera setelah mengandung Yesus dengan kuasa Roh Kudus, pergi menemui kerabatnya yang sudah lanjut usia, Elisabet, yang secara ajaib juga sedang mengandung. Dalam perjumpaan yang dipenuhi dengan Roh Kudus ini, Maria mengungkapkan sukacitanya dengan nyanyian Magnificat, karena ia telah sepenuhnya menyadari pentingnya hal-hal besar yang terjadi dalam hidupnya: melalui dirinya, semua pengharapan bangsanya menjadi kenyataan.

Tetapi Injil juga menunjukkan kepada kita apa alasan yang paling benar untuk kebesaran Maria dan berkatnya: alasannya adalah iman. Karena Elisabet menyapanya dengan kata-kata ini: "Berbahagialah dia, yang percaya bahwa Tuhan telah berfirman kepadanya" (Lukas 1:45). Iman adalah inti dari seluruh kisah Maria; dia adalah orang yang percaya, orang yang sangat percaya; dia tahu - dan dia mengatakannya - bahwa dalam sejarah ada kekerasan dari para pengganggu, kesombongan dari orang kaya, kesombongan dari orang yang sombong. Namun, Maria percaya dan mewartakan bahwa Allah tidak meninggalkan anak-anak-Nya sendirian, rendah hati dan miskin, tetapi datang menolong mereka dengan belas kasihan, dengan perhatian, menggulingkan mereka yang berkuasa dari takhta mereka, mencerai-beraikan mereka yang sombong di dalam hati mereka. Inilah iman Bunda kita, inilah iman Maria!

Kantilias Bunda Maria juga memberi kita sekilas tentang makna penuh dari kisah Maria: jika belas kasih Tuhan adalah kekuatan pendorong sejarah, maka dia tidak dapat "mengetahui kerusakan kubur, dia yang telah melahirkan Tuhan yang menghidupkan" (Kata Pengantar). Ini bukan hanya tentang Maria. 'Hal-hal besar' yang dilakukan oleh Yang Mahakuasa dalam dirinya menyentuh kita secara mendalam, berbicara kepada kita tentang perjalanan hidup kita, mengingatkan kita akan tujuan yang menanti kita: rumah Bapa. Hidup kita, dilihat dalam terang Maria yang diangkat ke surga, bukanlah pengembaraan yang tidak berarti, tetapi sebuah ziarah yang, bahkan dengan segala ketidakpastian dan penderitaan, memiliki tujuan yang pasti: rumah Bapa, yang menanti kita dengan cinta. Sungguh indah memikirkan hal ini: bahwa kita memiliki Bapa yang menanti kita dengan kasih, dan bahwa Bunda Maria juga ada di sana dan menanti kita dengan kasih.

Sementara itu, seiring dengan berjalannya waktu, Allah memancarkan "bagi umat-Nya, para peziarah di bumi, tanda penghiburan dan pengharapan yang pasti". Tanda itu memiliki wajah, tanda itu memiliki nama: wajah yang bersinar dari Bunda Tuhan, nama Maria yang diberkati, yang penuh rahmat, karena ia percaya kepada firman Tuhan: orang percaya yang agung! Sebagai anggota Gereja, kita ditakdirkan untuk berbagi dalam kemuliaan Bunda kita, karena, syukur kepada Tuhan, kita juga percaya pada pengorbanan Kristus di kayu salib dan, melalui Pembaptisan, kita diikutsertakan dalam misteri keselamatan.

Hari ini marilah kita semua berdoa kepadanya bersama-sama, agar dalam perjalanan kita di dunia ini, ia dapat mengarahkan matanya yang penuh belas kasihan kepada kita, meringankan jalan kita, menunjukkan kepada kita tujuan kita, dan menunjukkan kepada kita setelah pengasingan ini, Yesus, buah yang diberkati dari rahimnya. Dan marilah kita bersama-sama berkata: Ya yang berbelaskasih, ya yang saleh, ya Perawan Maria yang manis!

 

MARIA MENUNGGU KITA DI SURGA

Dialah orang pertama yang percaya kepada Anak Allah, dan dialah orang pertama yang diangkat ke surga secara jasmani dan rohani. Dia adalah orang pertama yang menerima dan menggendong Yesus ketika Dia masih kecil, dan dia adalah orang pertama yang diangkat ke dalam kerajaan kekal Bapa. Maria, seorang gadis yang rendah hati dan sederhana dari sebuah desa terpencil di pinggiran Kekaisaran Romawi, justru karena ia menerima dan menghidupi Injil, diterima oleh Tuhan untuk berdiri untuk selamanya di samping takhta Putranya. Beginilah cara Tuhan menjatuhkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah hati (bdk. Lukas 1:52).

Maria Diangkat ke Surga adalah sebuah misteri besar yang menyangkut diri kita masing-masing, menyangkut masa depan kita. Maria, pada kenyataannya, mendahului kita di jalan yang akan dilalui oleh mereka yang melalui Pembaptisan telah mengikatkan hidupnya kepada Yesus, sebagaimana Maria mengikatkan hidupnya kepada-Nya. Pesta hari ini membuat kita melihat ke surga, memberitakan "langit yang baru dan bumi yang baru", dengan kemenangan Kristus yang telah bangkit atas maut dan kekalahan terakhir dari si jahat. Oleh karena itu, sukacita gadis rendah hati dari Galilea, yang diekspresikan dalam nyanyian Magnificat, menjadi nyanyian seluruh umat manusia, yang bersukacita melihat Tuhan membungkuk kepada semua pria dan wanita, makhluk yang rendah hati, dan membawa mereka ke surga.

Tuhan membungkuk di atas orang-orang yang rendah hati, untuk mengangkat mereka, seperti yang dinyatakan dalam nyanyian Magnificat. Nyanyian Maria ini juga menuntun kita untuk memikirkan begitu banyak situasi yang menyakitkan saat ini, terutama para wanita yang terbebani oleh beban hidup dan drama kekerasan, para wanita yang diperbudak oleh kesombongan orang-orang yang berkuasa, gadis-gadis kecil yang dipaksa untuk melakukan pekerjaan yang tidak manusiawi, para wanita yang dipaksa untuk menyerah secara jasmani dan rohani pada keserakahan para pria. Semoga awal dari kehidupan yang damai, adil, penuh kasih segera datang bagi mereka, menunggu hari ketika mereka akhirnya akan merasa dipegang oleh tangan yang tidak merendahkan mereka, tetapi dengan kelembutan mengangkat mereka dan menuntun mereka di jalan kehidupan, menuju surga. Maria, seorang gadis muda, seorang wanita yang sangat menderita dalam hidupnya, membuat kita berpikir tentang para wanita yang sangat menderita. Marilah kita memohon kepada Tuhan sendiri untuk memegang tangan mereka dan menuntun mereka ke jalan kehidupan, membebaskan mereka dari belenggu-belenggu ini.

Dan sekarang kita berpaling dengan penuh keyakinan kepada Maria, Ratu Surga yang manis, dan memohon kepadanya: "Berilah kami hari-hari damai, awasi perjalanan kami, biarlah kami melihat Putramu, yang penuh dengan sukacita Surga".

 

Catatan:

Kutipan ini diambil dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh P. Marcellus Sihura, OFMCap, dari buku Paus Fransiskus yang berjudul Maria La Più Bella Del Mondo (Maria yang Paling Indah di Dunia), hlm. 34-37.

07/10/2024

Di grup sharing yang saya kelola, ada pertanyaan salah satu umat. Berikut pertanyaannya:

Mohon tanggapan dari Romo,Katekis tentang Doa salam Maria  yaitu nisuno ndraugõ MOROI BAGOTALUA Ndra alawe.atau nisuno ndraugõ BAGOTALUA Ndra alawe 🙏🙏

Dari pertanyaan ini, saya kemudian kembali memastikan secara pribadi maksud dari pertanyaan ini dan ternyata yang dimaksudkan adalah terjemahan bahasa Nias dari kata “terpujilah engkau di antara wanita” yang dalam bahasa Nias bisa diterjemahkan (1) “nisuno ndra’ugö moroi ba gotalua ndra alawe” atau (2) “nisuno ndra’ugö ba gotalua ndra’alawe”.

Tanggapan Kat. Ingatan Sihura:

Ya’ahowu Talifusö.

Terima kasih atas pertanyaan yang telah disampaikan dan sungguh bagus sekali guna semakin meneguhkan keimanan (Katolik) kita. Terlebih bahwa di bulan Oktober ini, yang adalah bulan rosario, kutipan atau penggalan kalimat yang ditanyakan ini adalah bagian yang selalu kita gunakan.

Jika kita perhatikan dengan seksama, sebagai orang Nias, kedua terjemahan tersebut masih bisa dimengerti dan dipahami bahkan bisa saja dikatakan sama saja. Akan tetapi jika melihat esensi yang ada di dalamnya bisa jadi berbeda satu sama lain. Untuk itu, saya mengajak kita untuk melihat dokumen yang selalu kita pakai di Keuskupan Sibolga khususnya untuk Dekanat Nias yang mayoritas menggunakan bahasa Nias. Dokumen tersebut adalah “BUKU LAUDATE”.

Dalam buku Laudate, tepatnya di nomor 207, tertulis: “nisuno ndra’ugö moroi ba gotalua ndra alawe”. Dari terjemahan ini kita bisa melihat posisi orang yang sedang dipuji itu. Maria adalah seorang perempuan, dan dia dipilih dari antara perempuan yang banyak itu. Moroi ba gotalua ndra alawe andrö, samösa zotöi Maria, nisuno ia moroi ba gotalua ndra alawe bö’ö andrö.

Sementara untuk kalimat: “nisuno ndra’ugö ba gotalua ndra’alawe” masih terbuka kemungkinan bahwa orang yang “nisuno” itu, bukanlah dari jenis yang sama. Bisa jadi, seorang laki-laki yang sedang berada di antara sejumlah perempuan, dialah yang “nisuno” di antara perempuan itu.

Keberadaan Maria sebagai seorang perempuan, sungguh ia dipilih oleh Allah dari antara semua perempuan yang ada. Oleh karenanya, pemilihan kata Nias yang cocok untuk kita pakai adalah yang ada di buku Laudate, yang menggunakan kata “moroi”.

Semoga bermanfaat.

04/12/2023

Simane sito’ölö ero röfi, tatörö tödö nifotöi inötö Adven. Ba wanörö tödö inötö adven andre, ero luo Migu, tefotandro ia sifao fanunu lilin adven si no mufa’anö ba zisambua nahia. Nahia lili andre, sito’ölönia muhaogö wama’anö ba mube’e göi khönia gabagaba simane bulu naru’u ma zauzau. Naha lili andre tefotöi ia Korona Adven.

Eluaha Korona Adven
[Sumber: www.hidupkatolik.com]

Ofanöwa Wangoguna’ö Korona Natal.

Korona adven andre no tobali ia sambua gamagama sito’ölö la’oguna’ö bakha ba Liturgi Gereja Katolik. Na ta’osisi’ö molo’ö ofanöwania, Amada Pastor Hadrian, Ketua Komili Liturgi Keuskupan Sibolga luo no, no irai idunödunö. Korona adven andre tebörögö ia moroi ba mbanua Hamburg, Jerman. Da’e sambua ndrela wangomuso dödö ba ndraono nifaeri, ena’ö omuso dödöra sagötö ginötö wa’ogömi ba fa’okasu, irugi dania ginötö wa’aukhu zino. Ero ma’ökhö, latunu sara lili, irege töra ambö, 23 rozi dania tetunu lili na irugi inötö wa’aukhu zino andrö. Ba danö Eropa, ero röfi larasoi dania ginötö wa’ogömi andrö, töra ambö 23 ngaluo.

Sito’ölö lafalua andre ba naha ndraono nifaeri, itugu ara, itugu larasoi wa sökhi geluahania. Lafalua wanunu lili andrö ba naha ndraono nifaeri ena’ö muhula omuso dödöra ba we’aso ba ginötö wa’ogömi ba lö mamalö aro wanötöna ba wogamö inötö wa’aukhu zino. Simanö göi murasoi ena’ö fanötöna adven andrö sindruhu so niha ba wehola wamati ba wombaloi we’aso zangorifi andrö ba ginötö natal. Moroi ba da’ö, Gereja I’oguna’ö wangahatö’ö andre tobali ndrotondroto wamahatö wamati ba khö ndra niha samati.

Lili Korona Natal.

So öfa rozi lili ni’oguna’ö ba korona natal andre. Lili si öfa rozi andrö, tölu rozi zobowo doru, ba sara zarakhagö oyo. Si’öfa rozi lili andre, manalahini si öfa Migu ginötö adven. Tölu rozi lili sobowo doru, tefo’eluaha ia tobali tandra wangandrö ma famoni, fangesa ma famalalini era’era, fame’e sumange, ba famalua buabua wa’omasi. Lili sarakhagö oyo andrö, tefo’eluaha tobali fa’omuso dödö. Fa’omuso dödö andrö mo.amakhaita ia wa inötö we’aso andrö, no ahatö. Da’e tefataro ia ba nahia nahete si tölu. Da’ö dania wa asese lawa’ö, wa luo migu adven sitölu andrö, no luo migu gaudete, ma lafotöi ia luo migu wa’omuso dödö.

Baero lili si öfa rozi andrö, fa’itaria göi lafaogö sara lili safusi. Lili safusi andrö no tobali tandra we’aso andrö. bazimanö, na mutunu lili safusi andrö, no irugi inötönia. Fehola lili ma holahola lili andrö göi no sambua tandra we’aso Zo’aya. Haga lili andrö no famaedo Keriso si no haga gulidanö, töratöra ba we’asonia simendrua dania.

Gabagaba ni’oguna’ö.

Ena’ö sökhi khalakhala naha korona natal andre, lö mamalö göi lafaedogö khönia gabagaba simane naru’u ma zauzau. Fame’e gabagaba simane mo’eluaha sibai. Eluaha mbulu geu sowuge’e andre, ya’ia da’ö fa’ataö ba fa’auri. Baero da’ö, naru’u andre ba danö Eropa, no sinanö sauri hewa’ae ba ninötö sokafu göi. Faehu ia moroi ba zinanö tanö bö’ö.

Tötönafö simane naru’u andrö, da’ö dötönafö sedöna mu’erönusi niha samati. Naru’u si lö mamalö auri ba ginötö wa’okafu andrö, simanö göi dötönafö ba niha samati andrö si lö mangiwa ba ginötö wanandraigö. Lö mufamalö wanötöna, lö aetu ba wamalua fa’omasi, da’ö dania wozu wanöndra Keriso andrö si no umbu wa’auri.

 

Nifa’anö Kat. Ingatan Sihura, S.Ag.

 

Umbu:

Bosco da Cunha O.Carm, Memahami Perayaan Liturgi Sepanjang Tahun  Jakarta: Obor, 2011

C. H. Suryanugraha, OSC, Natal dan Paskah Perayaan Liturgis Dalam Dua Lingkaran Yogyakarta: Kanisius, 2021

Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen, Direktorium Tentang Kesalehan Umat Dan Liturgi Asas-Asas dan Pedoman Jakarta: Obor, 2011

http://gemaliturgi.blogspot.com/2014/11/sejarah-dan-makna-korona-adven.html

http://katolisitas-indonesia.blogspot.com/2013/12/tradisi-adven-sejarah-lingkaran-adven.html

https://ingatansihura.blogspot.com/2023/12/sejarah-dan-makna-korona-adven.html

https://www.hidupkatolik.com/2017/11/27/15219/belajar-liturgi-dan-ekaristi-via-komik-ciamik-bagian-i.php

03/12/2023

[Ilustrasi: Dok. Pribadi]
Oleh: RP. Hadrian Hess OFMCap
Sejarah Korona (lingkaran) Adven mulai di kalangan kristen protestan, tetapi kini disebar di mana-mana. Di kota Hamburg, Jerman, kota pelabuhan, seorang pendeta dan pemimpin sebuah rumah anak terlantar (anak jalanan – lht. MB 27 E) dan yatim piatu mendapat suatu ide gemilang. Untuk menghidupkan kegembiraan para anak dan pembantu asuhan, pendeta yang bernama Yohan Hinrik Wikhern itu, pada tahun 1839 memasang sebuah lingkaran kayu berdiameter 2 meter di ruang sembahyang rumah asuhan itu. Di atasnya setiap hari dihidupkan sebuah lilin sehingga pada hari menjelang Natal, 23 lilin bernyala. Di kemudian hari, lingkaran itu dililiti dengan daun hijau dari sejenis pohon cemara, juga disebut pohon Natal dan merupakan satu-satunya pohon yang daunnya tidak gugur pada musim dingin. Untuk hari biasa dipasang lilin kecil berwarna merah. Untuk hari Minggu dipasang lilin gemuk berwarna putih. (Harap maklum, bahwa jumlah hari masa Adven tidak sama setiap tahun, tergantung jatuhnya hari Natal, entah hari Minggu, Senin, Selasa dst.)
Cahaya di lingkaran atau Korona Adven yang makin besar ingin menyiapkan orang akan kedatangan Tuhan waktu Natal dan menghidupkan harapan di kegelapan kehidupan (secara lahiriah pada musim dingin di Eropa, siang hari cukup gelap sebab matahari hanya beberapa jengkal naik di atas ufuk dan cahayanya sangat lemah.)
Ide atau penemuan pendeta Wikhern semakin tersiar dan menarik perhatian seluruh orang Eropa dan kemudian menyebar ke hampir seluruh dunia. Namun karena ukuran asli terlalu besar untuk rumah pribadi, maka besarnya diperkecil dan hanya dihias dengan 4 lilin sesuai dengan keempat hari Minggu selama masa Adven. Bahkan ada karangan Adven dengan hanya satu lilin, sering dibentuk dengan akar pohon dan disebut Akar Isai / Yesse, sesuai dengan Yes 11:10.
Masih ada asal-usul lain tentang Korona Adven. Sudah di masa kafir orang menggantungkan sebuah lingkaran, terbuat dari jerami atau daun pohon, di pintu rumah atau di pintu kandang binatang dengan harapan terhindar dari roh-roh jahat yang masuk atau pembawa rezeki. “Kemujaraban” lingkaran itu masih dikuatkan dengan meliliti lingkaran dengan pita merah atau emas. Kini lingkaran di pintu kiranya hanya berarti: "Selamat Datang!" Pita merah itu dipasang juga ke Korona Adven.
Kebudayaan Korona Adven atau Akar Yesse 'meresap' juga di lingkungan katolik bahkan ke dalam liturgi. Di buku pemberkatan sudah terdapat Doa Pemberkatan Korona Adven pada Hari Minggu Adven I.
Komisi Liturgi kita (Keuskupan Sibolga) kurang melihat faedahnya memberkati Korona Adven itu, maka mereka menempuh jalan lain, jalan tradisi Gereja, yaitu membentuk kebiasaan yang disebut Lucenarium (Penyalaan Lilin) Adven. Hal ini telah direstui oleh Mgr. Anicetus Sinaga OFMCap tatkala dia masih berugas di Keuskupan Sibolga.
Orang Yahudi mengenal sebuah lucenarium pada awal perjamuan Sabat, pada petang menjelang hari Sabtu. Saat itu, ibu rumah tangga menghidupkan dua lilin dan mengucapkan sebuah berakha (pujian/berkat) atasnya. Baru sesudah itu tuan rumah memberkati roti persatuan dst. Gereja Timur mempunyai lucenarium pada awal setiap Ibadat Sore dengan menyanyikan madah Phos Hilaron. Gereja Katolik Roma mempunyai hanya satu lucenarium, yaitu pada Malam Paskah. (Masih ada lucenarium pada Pesta Yesus dipersembahkan di kenisah, yang kemudian hari dibawa oleh Paus Sergius I dari Gereja Timur.)
Dengan menghidupkan api dan lilin Paskah (Lambang Allah dari Allah, Terang dari Terang [Syahadat panjang]) dan dengan pemberkatan meriah (Exsultet) ingin disiapkan api untuk seluruh tahun, disimpan di Lampu Abadi dekat tabernakel. Dari situ setiap hari maunya diambil nyala untuk menghidupkan lilin altar dan lilin lain. Sekitar 50 tahun yang lewat hal ini masih biasa dilaksanakan.
Mengingat tradisi timur dan barat, Komisi Liturgi memasang sebuah lucenarium pada awal upacara pada ke-4 Hari Minggu Adven di dalam buku Fangowasaini Luo Zo'aya, sesudah doa tobat (ganti Kemuliaan). Lucenarium itu menjadi begitu biasa sehingga terasa ada sesuatu yang hilang bila tidak dilaksanakan, juga di perayaan Misa dan Misa berbahasa Indonesia. Maka Komisi Liturgi menyiapkan juga versi bahasa Indonesia.


===================================

Tulisan ini dahulu bersumber dari website Keuskupan Sibolga dengan link: http://start.keuskupansibolga.org/2013/12/sejarah-dan-makna-korona-adven.html yang kini sudah tidak tersedia lagi. Tulisan ini kemudian di Up Load kembali oleh Website Gema Liturgi dengan link: http://gemaliturgi.blogspot.com/2014/11/sejarah-dan-makna-korona-adven.html Sebagai pemerhati liturgi di Keuskupan Sibolga, saya, Kat. Ingatan Sihura kemudian meng-Up Load kembali tulisan ini sebagai bagian dari katekese.

30/10/2023

Nifa’anö Kat. Ingatan Sihura, S.Ag.

Gambara Lili Adven [Dok. Pribadi]

Ero röfi, inötö adven andrö, no tobali sambua inötö si sökhi sitobali böröta wangombakha ginötö Natal ma fanunu fandru ba fanötöna ginötö ndröfi sibohou. Ba hiza, asese sibai ha da’ö ni’ilada wa inötö andrö no inötö si lö tola lö’ö ta’owasaini ero röfi. Ba zimanö, hadia ha simanö geluaha ginötö adven andrö?

Ngawua wehede “adven” tehalö ia moroi ba ngawua wehede Latin, ya’ia da’ö “adventus” eluahania “fa’atohare”. Moroi ba ngawua wehede andre oroma wa inötö adven andre no inötö wombalobaloi fa’atohare. Inötö adven faudu molo’ö döfi liturgi andre tola mufo’eluaha ia tobali sambua gofanöwa ginötö wombalobaloi fa’atohare wa’atumbu zangöhöli andrö sasese mutörö tödö ba ginötö natal ma fanunu fandru.

Inötö wanörö tödö wa’atumbu zangöhöli andre, tefotandro dania ia ba wombaso ero luo migu. Ösi wombaso Taroma Li Lowalango sagötö luo migu ginötö adven, tuhonia ya’ia wamadaya lala Zo’aya (fahela Luka 3:4-6). Famadaya lala khö Zo’aya andre tatu tenga möi manimbu lala saogo ba lala sebua. Ba hiza famadaya lala andre abölö tetahö ia ba wama’anö tödö zamati.

Ba wama’anö tödö zamati andre, famo’eluaha ginötö adven andre itugu abakha. Inötö adven andre tenga saae ha fombalobaloi inötö wa’atumbu, ba hiza fombalobaloi wa’atoharenia ba zimendrua. Fa’atohare Zo’aya ba zimendrua andrö, ya’ia ba wamöfö’ö niha samati ba we’amöi ba wa’auri si lö aetu. Da’e dania geluaha sitobini andrö sanandrösa ba wangowasainida ginötö adven andrö ero röfi. Ba wanörö tödö inötö adven andrö, sindruhunia tafasugi ba dödöda ba tagamögamö tödöda wama’anöda famatida ba wangöhönagö ya’ita wamaondragö fe’aso Zo’aya andrö ba khöda zamösana.

Moroi ba geluaha si no mubotokhi andre, ngawua wehede “adventus” itugu te’abakhai’ö geluahania na mufahela ia nasa ba wamo’eluaha Zura Ni’amoni’ö Amabu’ula Sibohou ni’ali ba li Latin ma sasese latötöi “vulgata”. Ba wo’ali ngawua wehede adven andrö, tehalö ia moroi ba ngawua li Yunani “parousia” eluahania “fa’aso”. Da’ö dania geluaha sitobini mege no wa, adven andrö no sambua inötö wombalobaloi we’aso Zo’aya ba niha samati.

Moroi ba wamo’eluaha da’e moroi yawa, tesöndra dobua gohitö dödö ba ginötö adven andrö, ya’ia da’ö:

a.       Adven no inötö wanörö tödö wa’atohare ma fa’atumbu Yesu Keriso ba gotalua niha;

b.      Adven no göi famasugi ba dödö niha ba wanötöna si lö tebulö we’aso Zo’aya ba luo safuria.

Börö da’ö, me inötö adven andre no inötö sisökhi ba wombalobaloi fa’atohare ba fa’aso zangöhöli andrö, no sinange na mufa’anö ia faoma fa’asökhi. Fama’anö nihalua ya’ia wama’anö tödö ba famalalini era’era. Fama’anö gabagaba ba gosali, ma ba nomo, ha sitobali ndrela wamahatö ena’ö itugu nasa saro dödö niha samati ba wombalobaloi fa’atohare ba fe’aso Zo’aya andrö. Amen.

Umbu:

Bosco da Cunha O.Carm, Memahami Perayaan Liturgi Sepanjang Tahun  Jakarta: Obor, 2011

C. H. Suryanugraha, OSC, Natal dan Paskah Perayaan Liturgis Dalam Dua Lingkaran Yogyakarta: Kanisius, 2021

Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen, Direktorium Tentang Kesalehan Umat Dan Liturgi Asas-Asas dan Pedoman Jakarta: Obor, 2011

30/11/2022

“… ba latörö lala bö’ö, wangawuli ba danöra” (Mataio 2:12)

Ya’ami ira talifusö ni’omasi’ö,

Fangowasaini Luo Wa’atumbu Zo’aya asese molohe fa’omuso dödö ba fa’atulö si lö mo’aetufa ba wa’aurida, börö me möi Yesu ba wangefa’ö ya’ita moroi ba mbilagu horö. Ba khöNia andrö situmbu ba gandra gurifö, mate ba döla röfa, ba maoso moroi ba gotalua zimate, te’adonogö ita mangawuli tobali omböita sibohou ba tasöndra wa’auri si lö aetu.

Ira niha satuatua andrö moroi ba gatumbukha, sifao fanoloni ndröfi andrö tohare ba wanömba Ya’ia ba lafasömba’ö khöNia gana’a, kumöyö ba emuri. Me no larasoi wa’omuso dödö ba walukhata sahöli dödö andrö, ira niha satuatua andrö ba latörö lala bö’ö ba wangawuli ba danöra simane niwa’ö Lowalangi khöra (fahela Mataio 2:12). Tola latalu’i ngawalö dahataha, fanaisi, ba fa’afökhö ba lalara wangalui Yesu ba me no falukha khöNia ba barani ira göi wanörö lala sibohou si lö tatu na abölö asai’ö moroi ba zi no latalu’i.

“Lala bö’ö” tola göi ta’erönusi ia ba lala wamati. Me no falukha khö Yesu, lö sa’ae la’o’aurifagö niha lala wa’auri si no ara, ba hizasifao lala wa’auri sibohou, tobali niha sibohou. Ba zimanö, Fa’atumbu Zo’aya idönia’ö ita ba wangalui lala sibohou ba sifao fa’atuatua ba wanuriaigö fa’omasiNia ba nawö ba ba ngawalö zauri ni’a’asogö Lowalangi.

Ya’ami ira talifusö ni’omasi’ö,

Ira niha satuatua moroi ba gatumbukha sifao sato wofanö wangalui Yesu idönia’ö göi ita wofanö sifao sato, ba wanöndra ohitö dödöNia “sitoröi ba gotaluada” (fahela Yohane 1:14) ba wanga’a’aro’ö amatöröwa wa’omasiNia. Ya’ita si no ono mbanua soi ba ono mbagua Gereja, hewa’ae ya’ita andre fabö’öbö’ö ba no ha sambua – faehu agama, gana, owuloa, hada – si lö tola lö’ö mo’ofanöwa ita sifao sato, ena’ö ba wefao andrö tola tatalu’i gofu hadia ia dahataha ba fanaisi wa’auri. Fa’afaehu no sambua howuhowu Lowalangi si lö tola lö’ö ta’andrö saohagölö, tarorogö, ba ta’ebua’ö. Fa’afabö’ö si no sa sambua si no tarasoi tobali sambua howuhowu Lowalangi, sindruhunia no sambua ndrela sangabölö’ö ya’ita ena’ö faoma fagogohe tanga ba wanga’a’azökhi lala wa’auri sifao sato ba si tola mamolakhömi.

Ba gofanöwa sifao sato te’abölö’ö ita ena’ö tola “alio tefadöhö, ba maoso sifao fa’abölö:; ba wanga’a’azökhi mangawuli wa’auri moroi ba wa’adudu ba ngawalö hadia ia börö wökhö sanönöi tanö ya’ia Covid-19; mangotomosi mangawuli banua wa’omasi ba gotalua ngawalö wamakao niha, manga’azökhi mangawuli amakhaita wamati ba gotalua wamakao niha bö’ö sifabö’ö agama; mango’aurifagö ngawalö wanörö lala sindruhu ba gotalua wakhögusa niha ba wangai sitenga tana khönia; manuriaigö famalalini era’era ba wangobadödöi ulidanö ba gotalua wa’asese sibai oya zamakito gatua, ba wangofönai’ö wefao ba foliti sifao fa’amo’adu föna wamalua famili sololohe tanga ba wamareta ba ndröfi 2024. Ofanöwa sifao sato tola tasöndra wa’abölö sitebai musu’a. Börö da’ö, ohitö dödö andrö no sinangea tetundreheni sifao buabua wo’angeraigö, fanema’ö, famondrongo, ba wamosumange awö sifao ba lala ya’ia fefu nono wobanua soida. Datatayaigö wangerangera sita’unö, töratöra nahönahö dödö. Data’ebua’ö wa’auri satulö ba fa’atalifusöta.

Fa’omasi Lowalangi göi tola laturiagö sifao fa’aterou dödöda wa’atobali awö ba sifahuwu ba khö dra talifusöda sitobali sanaögö fa’aila börö wohorö, si göna daludalu sino mutenawa, ni’etu’ö lala halöwö, nisafi’ö, sitosafi börö zalua ba danö, ba tanöbö’öna sitobali fosafi’ö. Fa’omasi Lowalangi site’asogö börö wangowasaini mbawa Wa’atumbu Zo’aya andre ikaoni ita ena’ö tabe’e dödvda wangobadödöi awö si so ba wanandraigö, börö ma hadia ia nifaluada ba nawöda si so bakha ba wanandraigö andrö ma si so ba wa’abu dödö, no göi tafalua ia khö Lowalangi (fahela Mataio 25:40). Tefodanedane ba wamati saro ba fa’omasi sahele dödö, yaita sifao sato tola tafatumbu’ö wanötöna ba fehi’a dödö khö ndra talifusöda ena’ö tola labua’ö ira mangawuli ba la’abölö’ö ira ba wolohi hadia ia ni’era’era dödöra si tola manö no taya. Fa’abarani wango’awögö niha sitefakao no sambua lala wa’omasi si lö tola lö’ö tatörö iada’e, ba ginötö no oya nasa niha samaigimaigi manö awönia sanaögö fa’afökhö, ma samakifu ya’ia ena’ö lö gaunögaunö wa’aurinia. Buabua niha Zamaria sitehulu tödö ba wa’omasi wanoloni niha nirabu (fahela Luka 10:25-37) sinagea ta’o’aurifagö ba taoroma’ö i aba lala wa’auri sero ma’ökhö.

Ya’ami ira talifusö ni’omasi’ö,

Fe’aso zi no Fa’omasi Sindruhu andrö sangöhöli ya’ita, no si lö tola lö’ö muturiaigö. Wa’oya ngawalö gamagama sitola mu’oguna’ö ba wame’e turia si no bua halöwö danga niha, no sinangea tola mu’oguna’ö ia ba wamolakhömi Lowalangi sifao fangotomosi lala wa’auri sifao sato sifao fa’omasi. Gamagama sitola mamakhai fa’atalifusöta si no bua wa’atedou wa’onekhe niha, ibe’e khöda sambua ndrela si sökhi ena’ö tola taturiaigö wa’omasi Lowalangi. Datasura mbua wangerangera, erönua, ba ösi wamoboto Duria Somuso Dödö, sangohahau’ö ba sangatulö’ö tödö niha sato. Ta’oroma’ö gambara sangoroma’ö wa’asökhi lala wa’auri sifao sato ba gotalua gamaehuta soya sibai ma mamazökhi ofanöwa gambara sadogodogo same’e bua zöndra ba niha ena’ö la’obadödöi nawöra bas i so ba zifasuira. Datafo’ösi nahia niha sato andre sifao fa’asökhi ba fa’atulö soguna ba wangebua’ö buabua wa’atulö, fa’afagölötö, fa’ato’ölö, ba fefao sato. Databaranikö göi it aba wolawa ngawalö zitaiu ba turia si lö atulö si tola mamakiko fa’asökhi lala wa’auri sifao sato.

Bakha ba haga Wa’atumbu Zo’aya tedönia’ö ita ena’ö itugu atuatua ba onekhe ba wangoguna’ö gamagama sitola mamakhai fa’atalifusöta, itugu atuatua ba wanuriaigö fa’omasi, itugu lö faröi ba wamalua buabua si sökhi, irege fa’omasi Lowalangi itugu muhaga ba fa’atulö si lö mo’aetufa itugu oroma. Lala sisökhi nifa’ema gamagama andrö sitola mamakhai fa’atalifusöta, no sinangea ta’oguna’ö ia tobali ndrela wanuriaigö irege tola tadönia’ö zato ba wa’atobali niha solohe fa’omasi, ba sondrönia’ö fa’atulö ba gotalua wongambatö, Gereja, ba ba gotalua wobanua.

Ya börö wanema’öda ngaluo Wa’atumbu Zo’aya andre, sindruhu tarasoi wa’omasiNia. Lowalangi si no fondrege wa’omasi lö faröi khöda, Emanuel, awöda Lowalangi. Lö irai iröi ita gofu hadia ia ginötö (fahela Heberai’o 13:5). Lö mamalö irorogö göi ita, irege lö irai manendre ita (fahela Sinunö 121:3) ba wangalui ba ba wanöndra lala si sökhi ena’ö turia wangefa andrö soroi Lowalangi tola laraoi nifa fondrege wa’ato.

Ba döi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) ba Persekutuan Gereja-gereha di Indonesia (PGI), ma’owai ami Ya’ahowu Wa’atumbu Zo’aya ba ndröfi 2022 ba Ya’ahowu wogamö döfi  sibohou 2023. Ya’ifahowu’ö Lowalangi.

Jakarta, 21 November 2022

Ba döi KWI:

Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC (Ketua)

Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM (Sekretaris Jenderal)

Ba döi PGI:

Pdt. Gomar Gultom (Ketua Umum)

Pdt. Jacklevyn F. Manuputty (Sekretaris Umum)


Pesan Natal Versi Bahasa Indonesia:

Link : Pesan Natal Tahun 2022 Bahasa Indonesia